Takbir Terakhir Sang Pemuda Di Hari Raya

Takbir Terakhir Sang Pemuda Di Hari Raya ~ Malam kian dingin. Langit hitam, berjelaga. Namun suasana malam belum hening. Masih terdengar suara sahut-menyahut. Dari satu mushala ke mushala lainnya. Dari satu mesjid ke  mesjid lainnya. Dan kampung ke kampung lainnya. Semuanya terdengar seperti suara orang berdialog. Semuanya tampak saling bergantian bertakbir laksana sedang lempar-melempar suara.


Jalan pun kian ramai, meski hari sudah mulai dini. Jam dinding menunjukkan pukul 24.30. Artinya 1 Syawal sudah berjalan sekitar enam jam lamanya. Namun, semangat itu belum padam. Bahkan kian berkobar. Anak-anak remaja mushala itu kian kencang mengumandang takbirnya.

Ya, malam itu adalah malam Idul Fitri, malam dimana umat Islam ramai mengumandangkan takbir dimana-mana Kumandang takbir merupakan perintah dari Sang Khalik "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (di bulan Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir (membesarkan) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur" (Q.S. Al-Baqarah ayat 185)

Takbir yang dikumandangkan pada malam itu tak lain adalah bagian dari ungkapan syukur seorang hamba, karena ia sudah melewati puasa sebulan penuh. Maka, tak ada kata yang terbaik untuk diucapkan selain ungkapan gema takbir, Allah Maha Besar. Karena tanpa kekuatan-Nya, mustahil seorang hamba mampu menjalani puasa selama 30 hari dengan baik.

Malam itu, kala kumandang takbir masih menggema di seantero jagad seorang pemuda menghembuskan nafas terakhirnya. Pemuda yang sejak kecil dipanggil Budiman itu, tergeletak di lantai sebuah mushala di tengah kawan-kawannya. Suara histeris mulai terdengar di mushala itu. Kawan-kawannya terkejut dan meminta bantuan warga dilingkungan mushala tersebut.

Saat itu Budiman bersama dengan teman-temannya sedang asyik takbiran penuh gembira. Namun, ajal berkata lain. Ia datang menghampirinya saat ia begitu bergembira menjumpai malam Idul Fitri. Budiman, anak remaja mushala itu sudah tak bernyawa lagi. Inna lilaahi wa inna ilaihi roji'un

Menghindari Fitnah

Menurut salah seorang temannya Budiman meninggal secara mendadak. Tanpa ada yang menyangka Padahal sebelumnya, ia sehat-sehat saja. Ia datang ke mushala sebelum kumandang adzan shalat Isya. Ia melaksanakan shalat Isya berjamaah. Usai shalat Isya, ia langsung takbiran di mushala bersama teman-temannya.

Seperti umumnya mushala di kampung-kampung. Acara takbiran diiringi dengan tabuhan bedug. Diantara mereka ada pula yang menabuh kentongan. Bahkan ada pula yang membawa botol galon air. Tujuannya tentu untuk menyemarakkan malam Idul Fitri. Acara takbiran tidak saja menjadi acara zikir, namun juga menjadi ajang apresiasi seni tradisional. Pasalnya acara takbiran di kampung-kampung biasanya diiringi dengan alat musik, sehingga menjadi kian semarak.

Tujuannya tentu bukan untuk mengecilkan apalagi menghilangkan kesakralan zikir. Takbiran diiringi dengan alat musik semata-mata untuk memberi semangat dan memotivasi anak-anak muda untuk kian giat dan memikat mereka pada kegiatan tersebut. Terlebih, ada sebagian ulama yang membolehkan perkara itu, selagi hal tersebut tidak untuk tujuan kemaksiatan.

Budiman adalah satu dari sekian anak muda yang senang berzikir. Ia pun senang bermusik. Keduanya tidaklah bertentangan. Itulah sebabnya, ia memadukan kedua hal itu. Baginya, tidak ada halangan untuk bermusik. Bahkan, bermusik bisa menjadi media untuk berzikir. Salah satunya adalah bertakbiran dengan diiringi alat musik tradisional.

Di Mushala itu, ia dan kawan-kawannya setiap tahun menyelenggarakan takbiran. Di kala banyak anak muda yang melakukan takbiran keliling ke jalan raya, ia justru mengajak teman-temannya untuk takbiran di mushala. Alasannya sederhana, yakni karena di mushala lebih aman dan terhindar dari fitnah sosial. Yang dimaksud dengan fitnah terhindarnya persepsi buruk pada acara takbiran keliling terkadang tercoreng oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya, anak muda-muda berpacaran, kebut-kebutan sepeda motor, bermain petasan, mengganggu lalu lintas, berhura-hura, hingga tawuran antara remaja. Hal itu sangat ia hindari. Maka takbiran di mushala adalah tempat yang paling aman.

Sekitar pukul 21.00, Budiman pulang terlebih dahulu ke rumah. Letak rumahnya tak begitu jauh dari mushala. Sementara acara takbiran di mushala terus berlangsung. Katanya, kala itu, hendak makan dulu, karena ia belum sempat makan malam sejak Isya tadi. Sekitar pukul 23.00 ia datang lagi ke mushala. Ia ingin  melanjutkan takbirannya. Tekadnya hingga dini hari.

Iwan, salah seorang rekannya sejak kecil, menceritakan bahwa Budiman memimpin kegiatan takbiran di mushala tersebut. Budiman adalah anak remaja yang selalu mengajak kawan-kawan mainnya untuk menyemarakkan dan memakmurkan mushala. Berbagai kegiatan keagamaan Islam sering diselenggarakan dan diprakarsai oleh Budiman. Salah satunya adalah kegiatan takbiran setiap datang malam hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.

Pada malam itu, ungkapnya, Budiman terlihat segar dan tidak menunjukkan tanda-tanda  bahwa ia sedang sakit. Hal ini bisa dilihat manakala Budiman mengucapkan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid. Suaranya kencang dan jelas sekali. Namun, lagi-lagi. Allah berkehendak lain. Budiman dipanggil oleh Sang Khalik. Budiman merasakan sakit di bagian dadanya kala itu. Ia memegangi bagian dadanya seraya menyerahkan microfon yang sedang ia pegang kepada salah seorang temannya. Merasakan kesakitan dan tersungkur ke lantai. Saat itu kegiatan takbiran berhenti seketika. "Kenapa kamu Bud?" tanya Iwan, kala itu.

"Dadaku sakit. Tolong aku minta air." pintanya.

Iwan lalu mengambil minuman gelas instan. Setelah diminumkan, tiba-tiba Budiman jatuh tak sadarkan diri. Semua rekan-rekannya terkejut. Karena mereka mengira Budiman hanya jatuh pingsan, maka sebagian dari mereka mengipasi badannya dengan buku. Sebagian lagi keluar mencari pertolongan. Ia lalu dibawa ke rumahnya. Beberapa kawannya memapahnya. Sampainya di rumah Budiman lalu dibawa ke klinik pengobatan. Singkat cerita, Budiman sudah tidak bernyawa. Kemungkinan besar Budiman sudah meninggal sejak masih di mushala.

Fitri Mubarak

Pagi itu adalah hari duka bagi keluarga Muhammad Suja'i Pasalnya salah satu anak kesayangannya, Budiman, sudah meninggal dunia, tepat dimalam takbiran. Ia tidak menyangka, anaknya secepat itu meninggalkan dirinya dan keluarganya. Satu sisi ia sangat sedih, tapi disisi lain, ia bangga, karena anaknya meninggal insya Allah dalam kondisi husnul khatimah.

Usai melaksanakan shalat Idul Fitri, keluarga Suja'i sibuk menyiapkan proses menguburkan jasad Budiman. Usai dimandikan dan dikafani berdatangan melayat ke rumahnya. Hampir semua warga di kampung tersebut berdatangan. Rumahnya hampir dipadati pentakziah. "Saat itu orang berjubal datang ke rumah mendoakan si Budi. Saya juga heran. Baru kali ini saya melihat kejadian ini. Belum pernah ada orang meninggal di kampungnya, yang didatangi banyak orang." ungkap Suja'i, menceritakan.

Bisa jadi, jelas Suja'i petanda keistimewaan anaknya. Ia menuturkan bahwa banyak ulama yang juga ikut bertakziah di rumahnya. Mereka datang dari tetangga kampung. Sejumlah ulama juga menyebutkan bahwa insya Allah Budiman meninggal dalam keadaan husnul khatimah karena ia meningal dalam keadaan berzikir dan berada dalam dakwah Islam.

Disamping itu selain ramaihnya yang datang bertakziah, Suja'i juga menceritakan bahwa jasad anaknya sebelum dimandikan tercium harum sekali. Seperti ia sudah dimandikan. Padahal ia belum dimandikan. Keanehan dan kelebihan lainnya adalah saat ia tidak ada kotoran dari tubuhnya yang keluar.   
 
Budiman, lanjut Suja'i sudah lama pengidap penyakit jantung. Ia sudah diingatkan untuk tidak terlalu lelah dalam beraktivitas. Namun ia selalu memaksakan diri. Bahkan pada malam itu dirinya juga mengingatkan agar anaknya tidak usah ikut takbiran hingga dini hari. Tapi dia justru  berujar: "Doakan saja, Pak, Budi sehat. Lagi pula, kalau Budi mati dalam keadaan takbiran , itu lebih baik bagi Budi, dari pada Budi Mati dalam keadaan tidur."

Kalimat itulah yang ia ingat terucap dari mulut anaknya sebelum ia berangkat ke mushala. Bisa jadi kalimat itu adalah petanda bahwa ia memang sudah mendekati ajalnya. Kini, setelah ia meninggal dunia, Suja'i sudah mengikhlaskannya. Baginya, anaknya tidaklah mati, melainkan ia istirahat karena Sang Khalik sangat menyayanginya. Semoga saja!

Oleh Abu Dzar dalam Majalah Hidayah
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Takbir Terakhir Sang Pemuda Di Hari Raya Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Takbir Terakhir Sang Pemuda Di Hari Raya Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya