Kisah Nabi Musa Meninggalkan Mesir

Dunia Nabi ~ Berita tentang Nabi Musa yang telah membunuh seorang pemuda Mesir telah tersebar luas di kalangan penduduk negeri Mesir. Mereka menjadi marah. Sementara itu, para pembesar Kerajaan Mesir bersepakat  untuk menangkap Nabi Musa dan untuk membunuhnya.


Mengetahui hal tersebut kemudian Nabi Musa bersembunyi. Ketika itu, datanglah seorang lelaki Mesir yang beriman. Ia memberitahukan bahwa orang-orang Mesir akan menangkap dan membunuhnya. Oleh karena  itu, lelaki tersebut menyarankan agar Nabi Musa pergi meninggalkan negeri mesir.

Akhirnya, Nabi Musa pun mengikuti saran yang disampaikan oleh lelaki beriman tadi untuk meninggalkan negeri Mesir dan pergi dalam kondisi ketakutan. Ia merasa sangat khawatir, kalau-kalau ada penduduk Mesir yang menyusul untuk menangkapnya. Oleh karena itu, ia selalu meminta perlindungan dari Allah swt. Peristiwa ini tertuang dalam Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 20 – 21.

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu, Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.”

Nabi Musa Tiba Di Negeri Madyan

Ketika itu, Nabi Musa dipersalahkan karena membunuh seorang lelaki Mesir. Ia terpaksa meninggalkan negeri Mesir. Ia terus  berjalan dan berdoa. Sambil berjalan menuju negeri Madyan, ia berdoa agar Allah menuntunnya pada jalan yang benar. Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi), Mudah-mudahan Tuhan-Ku menuntunku ke jalan yang benar. (Quran Surat Al-Qashash ayat 22).

Akhirnya, Nabi Musa sampai di negeri Madyan. Ia melihat orang-orang berkerumun di sekitar sumber mata air. Mereka adalah penggembala yang mengambil air untuk kebutuhan kambing-kambing mereka. Nabi Musa juga melihat dua perempuan yang berada dibelakang orang-orang tersebut. Kambing-kambing kedua perempuan itu sangat kurus, sedangkan kambing-kambing yang lainnya gemuk.

Kemudia, Nabi Musa bertanya kepada kedua perempuan itu, “Apa yang kamu lakukan di sini ?”  Salah seorang perempuan menjawab, “Kami berada disini untuk menjaga kehormatan dan tidak mau berebut air. Kami harus bersabar hingga semua orang selesai mengambil air. Setelah itu, barulah kami mengambil air untuk kambing-kambing kami. Bapak kami sudah tua sehingga tidak mungkin datang ke sini.”

Kisah ini diceritakan dalam Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 24. “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya). Dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu) ?”. Kedua perempuan itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.”

Nabi Musa pun menolong kedua perempuan itu. Ia mengambilkan air untuk kambing-kambing mereka. Pada hari itu, kedua perempuan itu dapat  pulang lebih awal. Ketika sampai dirumah, bapak mereka, Nabi Syu’aib, keheranan. Kedua anaknya menceritakan kejadian hari itu. Nabi Syu’aib menyuruh putrinya untuk menemui Nabi Musa. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Qur”an Surat Al-Qashash ayat 25).

Perempuan itu berkata, “Bapakku mengundangmu ke rumah kami. Dia akan memberi imbalan atas kebaikanmu mengambilkan air. Nabi Musa pun pergi ke rumah mereka. Ketika sampai di rumah itu. Nabi Musa bertemu dengan bapak kedua perempuan itu. Nabi Syu”aib sangat berterima kasih kepada Nabi Musa. Nabi Musa menceritakan tentang alasan ia pergi dari Mesir. Nabi Syu’aib berkata: “janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu. ”Nabi Musa tinggal beberapa lama di Madyan sebelum akhirnya kembali ke Mesir.

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu, ia berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikkan-Mu) memberi minum (ternak) kami. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata, Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (Qur’an Surat Al- Qashash ayat 26).

“Jika Allah berkehendak menolongmu, tidak ada orang yang dapat menghalangi-Nya. Jika Allah membiarkan kamu dan tidak memberi pertolongan kepadamu, siapakah gerangan yang dapat menolong kamu ? Oleh karena itu, hendaklah kamu hanya bertawakal kepada Allah.”

Nabi Musa Di Nikahkan

Nabi Musa kini tinggal bersama keluarga Nabi Syu’aib. Semakin hari hubungan mereka semakin erat. Seorang putrid Nabi Syu’aib menginginkan agar Nabi Musa bekerja dengan mereka. Nabi Syu’aib mengerti benar perasaan anaknya kepada Nabi Musa.

Kemudian, Nabi Syu’aib berkata kepada  Nabi Musa, “Sesungguhnya aku bermaksud untuk menikahkan  kamu dengan salah seorang anak perempuanku. Dengan satu syarat sebagai maskawinnya, kamu harus bekerja denganku selama delapan tahun. Apabila kamu suka, tambahkan dua tahun lagi. Hal itu bergantung pada kesanggupanmu. Nabi Musa berkata, “Saya terima kesepakatan ini Allah yang akan menjadi saksi atas apa yang  telah kita ucapkan.

Perjanjian Nabi Musa dengan Nabi Syu’aib tersebut tertuang dalam Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 27-28. Berkatalah dia (Syu’aib), “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa  kamu bekerja  denganku selama delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikkan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik. Dia (Musa) berkata, “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.”

Nabi Musa pun hidup bahagia bersama istri dan mertuanya. Namun telah tiba saatnya bagi Nabi Musa untuk kembali ke negeri Mesir. Akhirnya setelah perjanjian ditepati  Nabi Musa dan istrinya pergi menuju negeri Mesir.

Nabi Syu’aib pun merestui kepergian mereka karena ia sadar bahwa Nabi Musa pun adalah utusan Allah. Sebelum Nabi Musa berangkat, Nabi Syu’aib memberikan sebuah tongkat sebagai senjata di tengah perjalanannya mereka.

Nabi Musa dan istri kesayangannya akhirnya berjalan menyusuri padang pasir dengan sembunyi-sembunyi karena mereka takut perjalanannya diketahui oleh tentara Mesir. Oleh karena itu, mereka lebih menyukai melakukan perjalanan  pada malam hari di saat tentara Mesir sedang terlelap tidur, sementara waktu siang mereka gunakan untuk bersembunyi.

Sumber : Kisah Nabi Dan Rasul oleh Sugiasih, S.Si.
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Nabi Musa Meninggalkan Mesir Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Nabi Musa Meninggalkan Mesir Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya