Kisah Az Zahra ra Dan Ummu Kultsum ra

Dunia Nabi ~ Orang-orang Madinah sangat mencintai Rasulullah, terutama setelah beliau berhasil mendamaikan dua suku, Aus dan Khazraj, dan berhasil mengikat mereka dalam ukhuwah Islamiyah. Kemudian, penduduk Madinah menawarkan perlindungan kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslimin Mekkah dari gangguan kaum kafir Quraisy. Setelah Nabi SAW mendapat perintah dari Allah SWT untuk berhijrah, mulailah kaum muslimin hijrah ke Madinah.


Dalam perjalanannya menuju Madinah, beliau ditemani sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Nabi SAW meninggalkan istrinya, Saudah binti Zam’ah, dan kedua anaknya, Ummu Kultsum dan Fathimah. Adapun zainab masih berada di rumah suaminya yang kafir, ptra Abu Jahal, Abul-Ash bin Rabi’, di Mekkah (Saat itu belm turun hukum Islam yang melarang muslimah menikah dengan non muslim). Seluruh Mekkah mendengar berita tentang muhajir, orang yang berhijrah. Lalu sampailah berita dari Yatsrib (Madinah) tentang sampainya Nabi SAW dengan selamat disana dan telah diterima oleh penduduknya dengan penerimaan yang luar biasa, penyambutan yang menunjukkan perasaan cinta yang besar dan kerinduan untuk berjumpa dengan Nabi yang mulia dan Rasul yang agung itu.

Setelah Nabi berhijrah, hijrahlah juga Ali, putra paman Beliau, Abu Thalib. Hari-hari terasa berjalan dengan lambat disertai dengan perasaan gelisah dan rindu. Malam-malam pun berlalu dengan berat karena perasaan khawatir. Sampai datanglah berita yang menggembirakan bahwa Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’ telah tiba bersama dua unta dan uang lima ratus dirham agar mereka dapat mendatangkan Saudah binti Zam’ah serta Ummu Kultsum dan Fathimah dari rumah Nabi SAW, juga keluarga Abu Bakar yakni Aisyah dan Ibunya. Kedua putri Nabi ini menghabiskan dua hari terakhirnya di Mekkah bersama saudara mereka, Zainab, istri Abul-Ash. Lalu mereka menuju Hujun, menyampaikan ucapan berpisah kepada ibunda mereka yang dimakamkan disana.

Ummu Kultsum menggandeng tangan saudaranya, Fathimah, lalu pergi bersamanya ke tempat Zaid, menunggu mereka bersiap-siap untuk berangkat. Perjalanan mereka tidak berlangsung aman. Baru saja keduanya meninggalkan Mekkah dan mereka berangkat dengan kafilah menuju Madinah, keduanya diburu oleh orang-orang musyrikin Quraisy. Al-Huwairits bin Naqidz bin Wahb bin Abd bin Quraisy, salah seorang yang selalu menyakiti Rasulullah SAW di Mekkah, mengejutkan unta mereka berdua hingga keduanya jatuh terpelanting ke tanah.

Keduanya lalu melanjutkan perjalanan dengan susah payah akibat terjatuh di padang pasir hingga mereka sampai ke Madinah. Betis mereka hampir tidak dapat diangkat. Tidak ada orang yang tidak mengutuk Al-Huwairits. Rasulullah SAW tidak dapat melupakan perbuatan yang jahat itu. Pada tahun kedelapan Hijriyyah, saat Fath Mekkah (Pembebasan Mekkah), beliau menyebut nama Al-Huwairits dan beberapa orang lagi yang sangat banyak menyiksa kaum Muslimin. Beliau meminta para panglimanya untuk membunuh orang-orang itu meskipun mendapati mereka bersandar di tirai Ka’bah. Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling patut di antara para panglima itu untuk membunuh Al-Huwairits dan ia pun akhirnya dapat melakukannya.

Sebelum Nabi menyuruh agar Fathimah didatangkan, beliau telah mulai membangun masjidnya dan rumahnya di tempat untanya yang bernama Al-Qushwa mendekam ketika beliau tiba di negeri hijrah. Selama pembangunan berlangsung, beliau tinggal di rumah Abu Ayyub Al-Anshari, rumah yang kemudian menjadi milik bekas budaknya, Aflah. Setelah rusak dan banyak dindingnya yang retak, rumah itu dibeli oleh Al-Mughirah bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam dengan harga seribu dinar. Ia perbaiki rumah itu lalu ia sedekahkan kepada seorang fakir di Madinah. Rasulullah SAW turut bekerja dalam pembangunan masjidnya dan rumahnya yang baru. Itu membangkitkan semangat kaum Muhajirin dan Anshar, sehingga mereka berlomba-lomba untuk bekerja.

Rumah Rasulullah SAW yang dibangun itu terdiri dari beberapa kamar sederhana yang menghadap ke halaman masjid. Sebagiannya terbuat dari batu-batuan yang ditempelkan dan sebagiannya lagi dari pelepah kurma yang direkatkan dengan tanah. Sedangkan bagian atapnya semua tersusun dari pelepah kurma. Mengenai ketinggiannya, Al-Hasan bin Ali, cucu Nabi SAW dan putra Fathimah, mengatakan, “Ketika aku masih remaja, aku pernah memasuki rumah Nabi dan dapat memegang atapnya.” Di dalam Shahih al-Bukhari dikatakan, pintu rumah beliau dapat diketuk dengan jari, artinya tidak ada besi gelang khusus untuk mengetuk pintu. Adapun perkakasnya untuk ukuran Madinah saat itu pun amat sederhana, kasar, dan dibawah standar. Tempat tidur beliau terbuat dari kayu diperlunak sedikit dengan serabut (ijuk) pohon kurma.

Ke rumah yang baru dan sederhana inilah Fathimah dating dari Mekkah untuk melihat ayahnya di tempat yang sangat mulia dan mendapati kaum Muhajirin telah hidup dengan tenang. Dan Rasulullah telah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar untuk menghilangkan perasaan keterasingan di kalangan Muhajirin dan untuk mengakrabkan satu sama lain. Alangkah indahnya gambaran yang Fathimah lihat sekarang. Persaudaraan yang tampak jelas, perasaan cinta yang nyata antara kaum Muhajirin dan Anshar. Alangkah indahnya apa yang ia saksikan. Tidak ada seorang Muhajirin pun yang datang ke Madinah melainkan puluhan orang Anshar segera mendatanginya. Semua ingin menjamunya dan semua ingin menjadi saudaranya.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh orang itu untuk menyenangkan semuanya ? Maka ia harus mengundi di antara semuanya. Dan barang siapa mendapatkan undian itu, tampak gembira dan mendapat ucapan selamat karena mendapatkan seorang saudara yang dicintai. Khayalan Fathimah kembali ke masa yang baru saja berlalu di Mekkah. Di sana yang ditemui adalah siksaan dan permusuhan, sedangkan di Madinah yang didapatinya adalah perasaan cinta, kebaikan, dan sikap mendahulukan orang lain. Di Mekkah, jika ada yang masuk Islam, penduduknya segera menghina, mencela, dan menyiksa. Sedangkan di Madinah, jika ada seorang Muslim yang berhijrah, semuanya segera menemuinya untuk menjamu dan memuliakannya.

Orang-orang Muhajirin itu mulai hidup dengan tenteram. Mereka dicukupi oleh keluarga-keluarga kaum Anshar. Kaum Anshar memberikan setengah rumah mereka kepada kaum Muhajirin, juga setengah harta mereka. Ketika datang bulan Syawal tahun kedua Hijriah, Nabi SAW menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar. Pernikahan ini tidak mengejutkan Fathimah dan tidak seorang pun kaum muslimin yang terkejut, karena beliau telah melamarnya sebelum hijrah dari Mekkah.

Sumber : Alkisah No. 23
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Az Zahra ra Dan Ummu Kultsum ra Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Az Zahra ra Dan Ummu Kultsum ra Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya