Kisah Hudhaifa Ibnu Yaman Sahabat Nabi

Dunia Nabi ~ Hudhaifa Ibnu Yaman adalah seorang sahabat yang memiliki keimanan yang besar terhadap ajaran Islam. Ia melaksanakan tugas dengan penuh keberanian. Pada suatu masa, tentara Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan hendak menyerang wilayah Madinah.


Namun, tentara Quraisy terhenti di wilayah pinggiran kota Madinah. Hal ini terjadi karena kaum muslim telah membuat parit-parit yang hamper mengelilingi wilayah Madinah. Tentara Quraisy tidak mampu melakukan penyerangan dan hanya mampu berkemah di pinggir parit. Sementara itu, kaum muslim dan Rasulullah terkepung lebuh dari sebulan. Kaum muslim mengalami krisis makanan. Keadaan mereka benar-benar memprihatikan. Rasulullah tidak hanya merisaukan tentang kelaparan, tetapi Rasulullah juga cemas tentang perkembangan musuh saat itu. Apalagi, ia mendengar bahwa kaum Yahudi bersekutu dengan tentara Quraisy.

Rasulullah ingin sekali mengetahui perkembangan musuh. Oleh karena itu, harus ada salah seorang dari kaum muslim yang menyusup ke tempat musuh. Namun, siapakah yang mampu melaksanakan tugas yang amat berat itu ? Ketika itu, Rasulullah menunjuk Hudhaifa untuk menyusup ke dalam markas musuh. Sebenarnya, Hudhaifa bukannya tidak takut. Sekalipun sangat ketakutan, Hudhaifa tetap melaksanakan tugas itu. Dalam keadaan lapar dan ketakutan, Hudhaifa berjalan di antara perkemahan tentara musuh. Hebatnya, Hudhaifa mampu memasuki daerah musuh tanpa dicurigai sedikit pun.

Adanya angin kencang telah memadamkan seluruh api di perkemahan tentara Quraisy. Hal itu cukup membantu gerak Hudhaifa. Saat gelap gulita, Abu Sufyan meminta tentara Quraisy untuk mewaspadai  penyusupan musuh. Abu Sufyan berkata, “Wahai segenap kaum Quraisy, hendaklah masing-masing kalian memperhatikan kawan duduknya dan memegang tangan serta mengetahui siapa namanya”. Mendengar hal itu, Hudhaifa segera menjabat tangan orang yang ada di sebelahnya dan menanyakan namanya. Dengan demikian, tentara Quraisy tidak mencurigai. Sebenarnya, ia sangat ketakutan ketika itu. Bagaimana ia tidak takut, ia sendirian, sementara musuh berada di kanan kiri, belakang, dan di depannya dalam jumlah yang banyak.

Abu Sufyan memerintahkan tentara Quraisy untuk kembali ke Mekkah. Hal ini tidak terlepas dari pertolongan Allah. Allah telah menimpakan hujan dan angin topan sehingga memporak-porandakan perkemahan tentara Quraisy. Saat Abu Sufyan hendak naik untanya. Hudhaifa berkeinginan untuk memanahnya. Namun, ia teringat dengan pesan Rasulullah untuk tidak bertindak sebelum member laporan kepadanya. Setelah itu, Hudhaifa kembali masuk ke kota Madinah. Ia melapor kepada Rasulullah bahwa tentara Quraisy telah kembali ke Mekkah. Hudhaifa telah berhasil melaksanakan tugas yang amat berat dari Rasulullah.

Hudhaifa Ibnu Yaman Anti Kemunafikan

Hudhaifa Ibnu Yaman adalah seorang muslim yang sangat membenci kemunafikan, kebohongan, dan menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah. Semua itu adalah keistimewaan Hudhaifa Ibnu Yaman. Sifat-sifat itu tidak terlepas dari kebiasaan Hudhaifa yang mempelajari kejahatan dan orang-orang jahat. Ketika sahabat-sahabat yang lain bertanya tentang kebaikan kepada Rasulullah, Hudhaifa bertanya tentang kejahatan. Hal itu dilakukannya karena Hudhaifa takut dirinya terlibat dalam kejahatan.

Pada suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab mengangkatnya menjadi pemimpin di kota Madain. Penduduk kota Madain berbondong-bondong untuk menyambut pemimpin mereka yang baru. Mereka menanti rombongan sahabat Rasulullah itu yang dikenal karena ketakwaan dan kesalehannya. Tidak lama kemudian, mereka melihat seorang lelaki naik keledai dengan beralaskan kain using. Mereka pun tahu lelaki itu adalah Hudhaifa Ibnu Yaman. Mereka heran dengan kesederhanaan Hudhaifa.

Mereka mengelilingi Hudhaifa seolah menunggu titah dari Hudhaifa. Hudhaifa berkata, “Jauhilah tempat-tempat fitnah”. Mereka berkata, “Di manakah tempat-tempat fitnah itu ?” Hudhaifa menjawab, “Pintu rumah para pembesar”. Maksud Hudhaifa adalah seseorang yang menemui pembesar dan membenarkan ucapan palsu pembesar tersebut, serta memuji perbuatan yang baik yang tidak pernah dilakukan pembesar itu. Orang tersebut adalah seorang yang munafik. Hudhaifa menempatkan kemunafikan dibagian yang paling rendah. Sementara itu, orang yang munafik adalah seorang yang sangat hina di matanya.

Hudhaifa Diselimuti Oleh Rasulullah SAW

Pada suatu ketika, seorang sahabat berada di sebelah Hudhaifa. Sahabat itu berkata, “Seandainya aku hidup bersama Rasulullah SAW, tentu aku akan berperang bersama baginda dan akan mendapat banyak ujian”. Hudhaifa bertanya kepada sahabatnya itu, “Benarkan engkau sanggup melakukannya ?” Kemudian Hudhaifa bercerita, “Kami pernah bersama dengan baginda pada malam-malam menjelang Perang Ahzab. Ketika itu, udara sangat dingin sehingga terasa seperti menembus tulang. Rasulullah SAW dan para sahabatnya berkumpul di dalam kemah. Rasulullah SAW bersabda, “Jika ada seseorang yang bersedia memberikan kabar tentang keadaan musuh, dia akan bersama aku pada hari kiamat”.

Pada saat itu, tidak ada seorang pun yang berani mengintai keadaan musuh. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menunjuk aku untuk melaksanakan tugas yang berat itu. Ketika aku kembali pada tengah malam, aku memberikan laporan kepada Rasulullah SAW. Kemudian, baginda menyelimuti aku dengan kain yang biasa baginda gunakan untuk Shalat. Aku pun tidur nyenyak. Pada waktu menjelang subuh, Rasulullah SAW membangunkan aku. Beliau bersabda, “Bangunlah, wahai orang yang banyak tidur”.
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Hudhaifa Ibnu Yaman Sahabat Nabi Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Hudhaifa Ibnu Yaman Sahabat Nabi Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya