Ustadz Agus Feriyanto Menebarkan Cahaya Al-Quran Dari Banyuwangi

Dunia Nabi ~ Selang sehari setelah menerima amanah untuk menakhkodai Baitul Maal Hidayatullah (BMH) gerai Probolinggo, Ustadz Agus Feriyanto diminta atasannya untuk bertandang ke Surabaya untuk menghadap  pengurus Dewan Perwakilan Daerah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur.


Agus pun memenuhi undangan itu. Tak ada pikiran apapun dibenaknya. Tujuannya hanya memenuhi undangan. Apalagi langsung datang dari pimpinan wilayah.

O...yang dari Probolinggo itu ya? Ujar ketua DPW saat itu, ketika laki-laki  kelahiran 35 tahun silam ini perkenalkan diri.

Iya, ustadz Benar, jawabnya. Kalau begitu ini surat tugasnya Antum (kamu) dipindah tugaskan ke Banyuwangi, tutur sang ustadz tanpa basa-basi.

Meski terkesan mengejutkan bagi Agus secara pribadi tugas dakwah di daerah adalah  sebuah penantian. Hal itu terilhami dari bacaan kisah-kisah dai Hidayatullah yang terhimpun dalam buku Menjemput Pertolongan Allah.

Setiap kali membaca buku itu tumbuh keinganannya untuk mengikuti jejak mereka. Karena kepincut merasakan secara langsung pertolongan Allah di medan dakwah. Maka tak ayal, tugas yang baru saja diterima tak mimpi yang terwujud nyata.

Meski demikian, ada hal yang menggelayuti pikirannya. “Tapi bisakah ustadz saya berangkatnya setelah istri melahirkan?” suami Azizah ini mengajukan permohonan. Bertepatan, sang istri tengah hamil tua.

Sudah, bismillah Berangkat saja sekarang, jangan lama-lama, ujar sang ustadz. Agus pun menjalankan amanah itu.

Menghadapi Tantangan

Kesan pertama begitu menggoda itu yang dirasakan Agus, ketika pertama kali menginjakkan kaki di medan juang. Sayangnya, bukan hal positif, tapi negatif, betapa tidak, saat itu kampus  berada ditengah hutan, banyak pohon liar. Semak belukar memenuhi area pondok. Penerangan lampu pun kurang.

Sampai ada kejadian unik di hari pertama. Adzan shalat Maghrib berkumandang. Bergegaslah sosok asli Sumenep Madura ini menyiapkan diri. Tak lama kemudian ia  menghidupkan sepeda motornya, tiba-tiba  ada seorang warga pondok menegur, sambil menanyakan hajatnya.

Mau ke masjid Shalat, jawab Agus. Masjid pondok sebelah situ ustadz ujar laki-laki itu sembari menunjukkan arah masjid. Ternyata letaknya hanya beberapa meter dari posisi Agus.

Hanya ia terhalang oleh pohon dan semak belukar, serta redupnya penerangan.

Selain keadaan bernuansa  angker seperti itu, binatang beracun seperti ular juga banyak. Besar-besar, tak ayal, keadaan itu sempat membuat laki-laki murah senyum ini tak kerasan. Tapi kembali ia ingat tentang perjuangan-perjuangan para pendahulunya. Hal itui bisa meredam gejolak di hati.

Bersih-bersih menjadi gerakan pertama yang dilakukan oleh Agus untuk menghidupkan pondok. Semua pohon yang tidak potensial ditebang. Rumput-rumput dan semak belukar ditebas dan dibersihkan.

Cahaya Al-Qur’an

Setelah gerakan rapi pondok, ada PR besar lain yang harus digarap Agus, untuk menghidupkan pesantren. Maklum jangankan program, santri pun hanya segelintir. Karenanya aktivitas ke pesantren pun tiarap.

Geliat itu mulai terasa ketika salah seorang anak dari pengurus, pulang dari thalabul ilmi dari luar kota, mengikuti daurah hafal al-qur’an selama 50-60 hari. Mencuatlah ide untuk mengadakan hal serupa dipesantren. Sukses, banyak peserta yang ikut, sampai beberapa angkatan.

Bagi anak pasangan bapak Achmar dan Ibu Jumaisa, program daurah itu menyentak  keasadarannya, untuk sungguh-sungguh menghafal al-Qur’an. Maka setelah dirasa ada kesempatan ia pun bertekad  untuk merealisasikan keinginannya.

Akhirnya, saya putuskan untuk ikut daurah. Tapi  bukan di pondok. Di Bogor Langsung di pusatnya, keluarga sementara saya tinggalkan. Amanah juga saya titipkan kepada teman-teman, ungkapnya.

Setelah mengikuti  program selama  dua bulan, ternyata Agus  bisa menuntaskan  hafalannya. Sempurna 30 juz, ia sendiri tidak  menyangka bisa demikian. Dalam waktu yang sama, muncul lah ide, membuka program tahfidz 30 juz selama setahun, untuk para santri yang bermukim di pondok, tak ubahnya pesantren pada umumnya.

Saya yakin anak-anak bisa Wong di sini (Bogor) dua bulan saja  bisa, apalagi kalau setahun, demikian argumen yang disampaikan oleh Agus, ketika berdiskusi dengan pengurus lain via telephone.

Sepulang dari Bogor, maka mulailah Agus dan pengurus lainnya untuk mewujudkan program yang dicanangkan. Setelah disebar ke beberapa grup media sosial, ternyata ada sambutan hangat. Sebanyak 17 santri mendaftar dari berbagai daerah sampai luar Jawa.

Semakin lama kepercayaan masyarakat bertambah, kita juga sudah lama membuka untuk program putri, ungkap lulusan Universitas Panca Marga (UPM) ini.

Saat ini sambungnya, Para alumninya sudah menyebar ke berbagai daerah, termasuk Sulawesi dan Papua, tidak hanya berperan sebagai murobbi tahfidz, ada pula yang mendirikan lembaga tahfidz, kata Agus.

Naungan Keberkahan

Selain membawa keberkahan bagi lembaga. Kedekatan kepada al-qur’an dirasakan Agus, menjadi wasilah mengundang bantuan-bantuan Allah. Betapa saat ini katanya ada saja jalan untuk menemukan solusi ketika tengah terbentur dengan permasalahan.

Pesantren pernah kehabisan beras. Tiba-tiba ada yang menelphone, dan bilang hendak mengirim bantuan beras. Tidak tanggung-tanggung satu ton beras, papar penghobi mambaca ini.

Ingin memperluas jangkauan keberkahan al-qur’an, Agus menginformasikan kalau pengurus pondok akan membuka program ‘Tahfidz Mutqin’ selama tiga tahun. Kelebihan lainnya, para santri ini kelak juga akan mendapat ijazah sekolah formal.

Semoga berjalan dengan lancar. Untuk program baru ini, tersedia beasiswa bagi anak yatim dan dhuafa, pungkas ayah dari tiga anak ini.


loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Ustadz Agus Feriyanto Menebarkan Cahaya Al-Quran Dari Banyuwangi Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Ustadz Agus Feriyanto Menebarkan Cahaya Al-Quran Dari Banyuwangi Sebagai sumbernya

0 Response to "Ustadz Agus Feriyanto Menebarkan Cahaya Al-Quran Dari Banyuwangi"

Post a Comment

Kisah Nabi Lainnya