Dunia Nabi ~ Masih perintisan, tapi gairah menghafal para santri tinggi, Dalam jangka waktu dua bulan rata-rata mampu menghafal 2-3 juz.
Asa ingin mengembangkan lembaga pendidikan menengah pertama (SMP) demi mempercepat proses kederisasi lembaga, mencuat dari segenap pengurus Pesantren Hidayatullah.
Setelah bermusyawarah, terpilihlah nama Abdul Ghofar, sebagai nahkoda yang akan memimpin proses perintisan sekolah. Diakui oleh Ustadz Ghofar, panggilan akrabnya bukan perkara mudah mengemban amanah baru itu.
“Lebih-lebih kami sama sekali tidak diberi modal sepersen pun untuk memulainya.
Jangankan dana untuk sosialisasi dan promosi, sekedar bangunan asrama untuk bakal murid pun tak ada. Yang tersedia hanya gubuk-gubuk yang terbuat potongan papan seadanya. Ada pun ruang belajar, diproyeksikan menggunakan masjid pesantren sebagai ruang utamanya.
Tak ayal kondisi demikian ini, sempat membuat ciut nyali dirinya dan tim untuk mempromosikan sekolah rintisan di masyarakat sekitar.
Akhirnya yang menjadi target utama anak-anak warga trans yang jaraknya dari pesantren berkisar 4-5 km, jelas laki-laki asal Madiun ini.
Setelah bergerilya berkunjung ke beberapa daerah trans dengan sistem ’door to door’ alhamdulillah, dapat murid. Sebanyak delapan anak terdaftar sebagai santri awal sekolah SMP yang diberi nama Al-Qolam itu.
Namun lambat laun, sekolahnya bukannya tambah maju. Yang ada justru semakin memprihatinkan, jumlah peminat semakin surut. Bahkan, masuk tahun ketiga, kata Ghofar, yang daftar Cuma satu anak.
“Kendala utama, selain persoalan modal, juga kemampuan manajemen pengelola yang masih minim. Pengelolaan sekolah masih seadanya, belum ada pengalamannya.
Tak ingin kondisi ini terus berlanjut dan tim akhirnya bersepakat untuk mengundang para pakar pendidikan asal pulau Jawa, untuk mendalami proses manajemen sekolah secara profesional.
Maka didatangkanlah diantaranya, Fausil Adhim pakar pendidikan asal Jogyakarta, Zainal Fanani, motivator nasional/pakar konseling, dan Adi Purwanto, kepala sekolah Islam terkemuka di Surabaya.
Dari hasil diskusi dengan para pakar inilah akhirnya sedikit demi sedikit pembenahan dilakukan di berbagai sektor, mulai dari sistem pengelolaan, keuangan hingga promosi.
Alhasil, sekolah mulai tertata rapi, Kepercayaan di masyarakat mulai terbangun. Pembangunan mulai berdiri, kini setiap tahunnya peminat semakin meningkat.
Masuk tahun ke tujuh ini, sejatinya kuota yang tersedia itu hanya 60 murid saja. Tapi jumlah yang sudah mendaftar mencapai 70 anak murid, papar Ghofar.
Di ungkapkan alumni STAIL, Surabaya ini, hal lain yang menjadi daya tarik para wali murid menyekolahkan anak mereka, yaitu adab dan kedisplinan yang diberlakukan di pesantren.
Dan memang dua aspek ini, menjadi perhatian segenap pengurus dalam menjalankamn proses pendidikan.
Banyak orangtua yang menyampaikan kalau anak-anak mereka telah mengalami perubahan dari sebelum mondok. Nampaknya, ini menjadi promosi tersendiri dari para wali untuk merekomendasikan kenalan mereka menyekolahkan putra-putri mereka di lembaga kita, terang Ghofar.
PROGRAM TAKHASUS
Tahun 2017 menjadi batu lompatan bagi lembaga pendidikan yang dipimpin Ghofar, khususnya di bidang hafidz Al-Qur’an, Pasalnya mereka mendapat bantuan seorang guru hafidz dari sebuah organisasi.
“Karena itu akhirnya kami cetuskan program takhasus hafidz al-Qur’an” terang putra pasangan Sadi (alm) dan Delik ini.
Mereka yang masuk program ini, tambahnya , memiliki beban belajar berbeda dengan mereka yang mengambil program biasa (reguler). Kelompok takhasus difokuskan menghafal al-Qur’an sebanyak 30 juz, selama mengikuti masa studi. Sedangkan mata pelajaran yang diikuti di sekolah hanyalah pelajaran-pelajaran yang masuk Ujian Nasional (UN).
Jadi tugas utama mereka adalah belajar dan menghafal al-Qur’an, tegas suami Rahmatillah ini.
Untuk bisa masuk kelas ini, selain mendapat restu dari orangtua, para santri harus mengikuti tes penyeleksian yang meliputi kelancaran dan ketepatan membaca al-Qur’an, sesuai dengan tajwid dan makhrajul hurufnya.
Program hafidz al-Qur’an ini sendiri, kata bapak dua anak ini, sejatinya sudah lama diidam-idamkan pengurus. Bahkan sejak perintisan sekolah (2010), program hafidz sudah menjadi proyek utama. Namun kesukaran mencari guru, menjadi kendalanya.
Kita sudah berapa kali berkunjung ke pondok-pondok hafidz untuk mencari guru, tapi tidak dapat-dapat. Lha, ini setelah tujuh tahun berjalan, tawaran justru datang sendiri.
Bersyukur Alhamdulillah, ucap sosok yang juga diamanahi Kepala Pendidikan DPW Hidayatullah Kalimantan Utara ini.
Dalam proses pelaksanaannya, sementara ini didapati anak-anak penuh semangat dalam mengikuti program. Dalam jangka waktu dua bulan berjalan, rata-rata mereka telah mampu menghafal 2-3 juz-an
“Kita juga baru dapat juara 2 lomba hafidz Al-Qur’an 5 juz tingkat Provinsi.” Ucap Ghofar

0 Response to "Tujuh Tahun Berburu Guru Hafidz"
Post a Comment