Kisah Dewi Shinta Kusuma Menahan Marah Terhadap Orang Tua

Kisah Dewi Shinta Kusuma Menahan Marah Terhadap Orang Tua ~ Perempuan kelahiran Jakarta, tanggal 20 Maret 1975, yang bernama asli Dewi Shinta Kusuma.S ini adalah putri bungsu seorang pendeta keturunan batak. Ia dilahirkan dalam lingkungan Kristen Protestan yang taat dan fanatik. Karenanya, ia sempat menjadi biarawati. Jiwanya gelisah, setelah seorang kakak kandung laki-lakinya ‘curhat’ dan menyatakan masuk Islam. Kemudian ia mempelajari Islam secara diam-diam dan akhirnya mendapatkan hidayah dari Allah swt, serta menyatakan dua kalimat syahadat pada hari Rabu, tanggal 8 Agustus 2001 di Pondok Pesantren Tarounassa’diyyah Rejoagung Ngoro Jombang Jawa Timur.


Sebelum memeluk agama Islam, sebetulnya, Dewi  sudah mengenal ajaran puasa dalam agama lamanya. Ia menganggap, kenapa agama Kristen sangat mudah menghilangkan dosa, sedangkan Islam tidak demikian. Wajar, apabila ia senang ketika masuk agama Islam dan mengetahui adanya kewajiban puasa Ramadhan. 

Untuk menjaga puasanya, ia bertanya kepada calon suaminya, apakah ia harus memisahkan diri dari lingkungan orang tuanya? Dengan tetap tinggal dan bergabung dengan mereka yang berbeda agama, ia mengkhawatirkan puasa dan ibadah Ramadhan lainnya akan terganggu.

Allah menunjukkan jalan, ia menikah dengan seorang ustadz muda, yaitu Ahmad Muchlis, sebelum bulan Ramadhan. Ia bersyukur, dapat menemukan tempat bertanya dan ada orang yang mengarahkan dalam mengarungi hidup barunya.

Praktis, puasa pertama ia jalani bersama suami. Awalnya, ia hanya tahu kalau puasa itu tidak boleh makan dan minum. Selebihnya diterangkan suami bagaimana puasa yang baik, perkara yang membatalkan puasa dan perbuatan yang mesti dijaga. Untuk niat puasa, ia sudah mempelajarinya sebelum masuk Islam.

Pada waktu siang,  kegiatannya hanya berbenah di rumah, karena ia baru menempati tempat tinggal yang baru. Malam harinya, ia menjalankan shalat Tarawih, meskipun bacaannya belum dihafal. Godaan terberat yang dirasakannya justru bukan dari luar, melainkan dari keluarga sendiri, ia masih menahan marah terhadap orang tuanya, sebab mereka belum menerima kepindahan agamanya.

Baginya, kenangan terhadap puasa pertama yang paling mengesankan adalah setiap mau berbuka puasa, dirinya sibuk mengumpulkan makanan sebagai menu untuk berbuka. Demikian juga untuk sahur.

Setelah melewati satu bulan puasa, tanpa ada yang batal, suaminya merasa senang. Ada perubahan dalam diri istrinya  yang baru  pertama kali  menjalankan rukun Islam yang ketiga ini. Menurut pengakuan Muchlis, sekarang Dewi lebih berbakti kepada suami, padahal ia memiliki watak dan sifat yang keras. Kemudian ia mau memakai jilbab dan ilmu agamanya bertambah, meskipun  masih banyak kekurangan. Bagi Dewi, puasa itu  bukan hanya  ikut-ikutan alias harus dijalanin benar-benar, seperti puasa mulut, mata, hati, tangan dan semua anggota badan.

“Dulu waktu kecil aku ngomong sama ayah, aku ingin punya suami yang pintar baca kita. Alhamdulillah, keinginan itu sekarang sudah terwujud dan aku tambah dekat dengan Allah swt.,” ucapnya bahagia.

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Dewi Shinta Kusuma Menahan Marah Terhadap Orang Tua Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Dewi Shinta Kusuma Menahan Marah Terhadap Orang Tua Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya