Jenazah Seorang Kyai Ringan dan Wangi

Jenazah Seorang Kyai Ringan dan Wangi ~ Siapa yang tak kenal dengan Kyai Baidowi Abdullah? Seluruh desa bahkan se-Kabupaten mengenal namanya. Ia masyhur bukan hanya dikalangan orang tua yang aktif di majelis Taklim, tapi juga para remaja hingga anak-anak.


Kemasyhuran Kiyai Baidowi Abdullah bukan lantaran dirinya orang kaya yang gemar mengumpulkan orang-orang kemudian membagi-bagikan uang atau sembako. Juga bukan karena kedekatannya degan pejabat di desa, namun karena Kyai Baidowi Abdullah memang tawadu dan shaleh. Ia begitu bersahaja dan welas-asih. Kepeduliannya kepada masyarakat dan lingkungannya pun sangat luar biasa. Kyai Baidowi Abdullah selalu mengingatkan pentingnya  ketaqwaan kepada Allah dan selalu mengingatkan pentingnya ketaqwaan kepada Allah dan selalu menghimbau dan mengajak masyarakat dilingkungannya atau di manapun dirinya berada untuk berlomba-lomba menebar kebaikkan dan menciptakan kebersamaan serta kedamaian.

Begitu arifnya cara Kiyai Baidowi Abdullah dalam mengajak ke jalan kebaikan. Sikap ini ia terapkan saat ia berada di majelis taklim ataupun dimana saja ia berada. Bagai sebidang tanah tandus terguyur air hujan. Kesejukan berkata dan berbuat menyegarkan hati siapun yang mengenalnya.

Alhamdulillah. Semua orang yang mengenal Kyai Baidowi Abdullah selalu bersyukur karena Allah telah memperkenalkan mereka pada sosok yang begitu peduli pada kemaslahatan, sosok yang tak pernah menyerah apalagi takut dalam menegakkan panji-panji Islam. Kyai Baidowi Abdullah adalah sosok pujaan yang menjadi embun bagi setiap orang yang mengenalnya. Sosok yang selalu memunculkan rasa kangen di hati.

Suatu ketika kabar wafatnya sang kyai terbang terbawa angin ke telinga-telinga orang yang mengagumi dan mencintai sang kyai. Semua nyaris tidak percaya, mereka nyaris tidak menerima kabar yang datang begitu tiba-tiba, seolah tidak rela atas datangnya berita yang mengejutkan itu. Tetapi dengan cepat dan bukti-bukti yang ada, semuanya tersadar. Benar saja, sang kyai sudah dijemput kematian.

Berbondong-bondong masyarakat yang mengenal dan mencintai Kyai Baidowi Abdullah datang untuk ketakziah, berbagai lapisan warga berkerumun di halaman rumah yag cukup luas. Mereka tercenung, larut dalam rasa kehilangan. Mereka  merasa tak akan mendapatkan lagi kesejukan di dalam kehidupan mereka tak akan lagi terdengar tausiah-tausiah yang membangkitkan gelora ketaqwaan, kebersamaan dalam kehidupan berkasih sayang dan ajakan-ajakan kebajikan  yang disampaikan dengan kearifan dan kelembutan hati.

Mereka, merasa  kehilangan. Tapi, begitulah kehidupan manusia di dunia ini. Sebuah kehidupan yang bersifat sementara. Mereka pun menyadari hal itu. Karenanya setelah jeda beberapa saat karena rasa kehilangan itu, masyarakat pun segera mempersiapkan segala kebutuhan jenazah sang kyai yang begitu arif dan bijaksana.

Namun, di sela-sela persiapan itu sesuatu yang lain dari biasanya terasa oleh mereka.”Duhai.... dari manakah datangnya aroma harum mewangi itu?” Subhanallah! Semuanya tak lagi memungkiri jika aroma harum mewangi itu datang melalui tubuh sang Kyai. Aromanya sewangi kasturi itu mencuatkan keyakinan bagi semua bahwa hal itu merupakan kemuliaan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Mulia kepada hamba shaleh, hamba yang selama hidupnya selalu berbuat kebajikan dan menegakkan hal-hal yang hak. Hamba yang tidak hanya mengedepankan hablum minallah, tetapi selalu menyeimbangkannya dengan Hablum minan naas.

Di sisi lain, ketika para pentakziah terpakau dengan aroma mewangi yang terpencar dari tubuh sang kyai. Ketakjuban serupa juga dirasakan oleh para penggali liang lahat yang dipersiapkan untuk jasad yang dimuliakan Allah, jasad Kyai Baidowi Abdullah.

Jika biasanya para penggali kubur harus bercucuran keringat saat menggali liang lahat, hal itu terjadi pada saat penggalian hari itu. Para penggali itu seolah mendapatkan kemudahan yang paling mudah. Mereka nyaris tak mengeluarkan tenaga saat menjejakkan mata pacul ke permukaan tanah. Kegemburan tanah seolah mencapai tingkatan yang paling gembur. Bak  tanah longsor, ketika mata pacul menyentuh tanah itu seolah memberikan tempat, sehingga mempermudah paculan, sampai terciptanya lubang yang cukup untuk memakamkan jenazah.

Kenyataan yang dihadapi tim penggali kubur itu membuat mereka berkesimpulan, tanah menerima dan menyambut kedatangan lelaki shaleh yang telah begitu banyak memberikan kemaslahatan bagi umat.

Kepergian lelaki shaleh itu adalah sebuah kenyataan yang harus diterima. Semua yang mencintai Kyai Baidowi Abdullah telah mengikhlaskan mereka siap menghantarkan kepergian sang kyai ke tempat peristirahatan yang terakhir. Jenazah sang kyai telah dipersiapkan dengan baik, tinggal menunggu perintah dari sang ahli waris untuk diusung ke pemakaman.

Beberapa lelaki telah siap mengangkat jenazah sang kyai untuk dimasukkan ke dalam keranda. Namun ditunggu-tunggu sekian saat, perintah memindahkan jenazah belum juga datang. Mereka pun terkejut ketika tiba-tiba saja putra sang kyai maju mendekati jenazah ayahnya dan mengangkat jenazah itu seorang diri.

Ketakjuban langsung terlihat dari wajah-wajah pentakziah, termasuk para lelaki yang telah dipersiapkan untuk memindahkan jenazah ke dalam keranda. Mereka takjub bukan karena kekautan tenaga putra sang kyai yang mampu mengangkat jenazah seorang diri, tapi mereka takjub dengan ringannya jasad Kyai Baidowi Abdullah sehingga putranya seperti tanpa menggunakan tenaga saat mengangkat jenazah seorang diri.

“Subhanallah! Begitu ringannya jenazah itu,” ketakjuban seperti itu menghuni hati dan pikiran para pentakziah, mereka berkali-kali memuji kebesaran Allah yang telah membuktikan kasih sayangnya pada orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya.

Tanpa menemui kesulitan apa-apa putra sang kyai terus menggondong ayahanda tercinta sampai masuk ke dalam keranda. Ringannya jasad kyai dirasakan juga oleh para pengusung keranda.

Itulah bentuk kemuliaan Allah untuk hamba-hamba yang shaleh, sama halnya dengan semasa hidup Almarhum yang juga mendapatkan kemuliaan Allah dalam bentuk lain yaitu, dapat memenuhi kebutuhan makanan setiap hari dengan hanya memiliki segenggam padi yang tak pernah habis meski setiap hari dimakan. Allahu Akbar.

Oleh Zubair Mahbub dalam Majalah Hidayah
 
Kamu sedang membaca artikel tentang Jenazah Seorang Kyai Ringan dan Wangi Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Jenazah Seorang Kyai Ringan dan Wangi Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya