Cahaya Iman Dari Seorang Mualaf

Cahaya Iman Dari Seorang Mualaf ~ Media sosial memberi manfaat yang sangat besar bagi mereka yang menjadikannya sebagai media untuk  belajar. Anak muda ini, salah satunya, menjadikannya sebagai sarana belajar tentang Islam. Hakikatnya, internet memang memberi manfaat yang luar biasa bagi umat manusia. Hasil cipta barang intelektual itu memberi warna  bagi perkembangan dan kemajuan hidup umat manusia. Siapapun bisa diantarkan oleh internet. Bahkan ,seiring dengan kemajuan teknologi informatika saat ini, hampir semua anak remaja menggunakan komunikasinya lewat internet.
Ilustrasi
Ditengah banyak pemuda yang menjadikannya sebagai sarana yang menjurus pada hal-hal buruk, pemuda yang satu ini justru menjadikannya sebagai media bertanya kepada ustadz atau guru agama, maka ia  pun bertanya tentang Islam lewat teman-temannya di dunia maya. Ia sama sekali tidak bermaksud mengecilkan peran ustadz atau ulama, namun karena  kesempatannya yang belum pas, maka ia pun menjadikan media sosial sebagai gerbang mencari kebenaran  tentang agama.

Ya, Andrew adalah seorang mualaf. Usia masuk Islamnya tergolong masih seumur jagung, bahkan bisa dihitung dengan bilangan jari. Ia masuk Islam setelah melewati pergulatan batin dan logika pada tahun 2010. Ia mengikrarkan diri menjadi umat Nabi Muhammad di Masjid Lautze Pasar Baru Jakarta Barat yang disaksikan oleh  jamaah masjid kala itu. Ia menceritakan bahwa ia sangat senang berdialog tentang Islam dengan kawan-kawannya di dunia maya. Karena, harus ia akui bahwa untuk bertanya langsung kepada ustadz terkadang ia  menghadapi  masalah psikologis. Ia sendiri adalah keturunan etnis Tionghoa, yang umumnya masih sulit diterima oleh etnis lainnya di negeri ini.

Karena itulah ia mengikrarkan ke-Islamannya di Masjid Lautze yang merupakan masjid yang memiliki jamaah yang berlatar belakang etnis Tionghoa. Keputusannya untuk memilih Masjid Lautze, karena agar ia bisa mudah diterima. Keputusannya mendatangi Masjid Lautze pun ia peroleh dari internet. Sumber informasi menyebutkan bahwa masjid itu didirikan dan jamaahnya mayoritas etnis Tionghoa. Ornamen dan arsitektur masjidnya pun mengikuti arsitektur etnis Tionghoa.

Kembali  ke soal  dunia maya. Dulu Andrew sangat aktif di milis mualaf, yaitu mualaf indonesia @yahoo group com. Lewat  milis itulah ia mendapat banyak bantuan seputar dunia Islam dan ajarannya. Salah satu kawan yang menjadi rekan dialognya adalah Qadiran Salaim. Rekannya itu bahkan rela mengiriminya buku-bukun tentang Islam.

Seperti umumnya para mualaf. Andrew mengakui bahwa hal tersulit baginya adalah mempelajari bahasa Arab. Karena bagaimana pun juga belajar Islam artinya belajar bahasa Arab pula. Hampir semua ibadah menggunakan bahasa Arab. Dalam shalat saja, misalnya, doa-doanya menggunakan bahasa Arab. Begitu juga dengan kitab suci al-Qur'an . Inilah hal terberat yang ia alami manakala ia menjadi muslim. Namun begitu, ia meyakini bahwa kesulitan apapun akan bisa diatasi manakala seseorang telah bersungguh-sungguh untuk belajar. Untuk pemula, ia disarankan oleh rekan-rekan muslimnya untuk belajar membaca dan menghafal Surat al-Fatihah. Karena al-Fatihah tersebut harus dibaca dalam setiap shalat. Manakala seseorang tidak membaca al-Fatihah, maka shalatnya tidak sah.

Ada banyak cerita yang ia dapat lewat milis. Ada satu cerita dimana seorang mualaf terpaksa harus shalat di kamar mandi lantaran takut ketahuan orang tua. Lewat  milis itulah kami berbagi pandangan dan masukan. Bagaimana sikap seorang anak yang telah masuk Islam dan memperlakukan orang tuanya yang belum mendapat hidayah. Islam ternyata sangat ramah dan memuliakan orangtua, meski keyakinan berbeda. Ke depan, ia ingin sekali membantu teman-teman mualaf di Makassar. Ia ingin mengumpulkan para mualaf dan membangun persaudaraan umat Islam. Di Makassar juga Ia ingin bergabung dan ikut aktif di PITI Makasar. 

Sebagai muslim tentu ia juga ingin memiliki  keluarga utuh dengan satu keyakinan. Terkadang ia merasa iri kepada muslim lainnya. Mereka  mudah menjadi muslim di tengah keluarga muslim yang muslim pula. Mereka dapat menjalankan ibadah bersama keluarga. Saat Ramadhan tiba, mereka sahur, buka puasa dan shalat berjamaah. Itu tentu nikmat rasanya. Mudah-mudahan keluarganya dapat  menerima keputusannya menjadi muslim. Amien !

Mencoba Berpuasa

Salah satu momentum yang sangat terkesan baginya adalah puasa. Ibadah inilah yang membuat dirinya mengenal Islam. Sebab kala itu, untuk mengetahui ajaran Islam, ternyata ia mengamalkan ajaran Islam tanpa menjadi mualaf terlebih dulu . Pria kelahiran 2 Juni 1983, ini mulai mempelajari apa itu Islam lewat apa itu ibadah puasa dan bagaimana pula cara menjalankan puasa dalam Islam. Tak tanggung-tanggung untuk mengetahui apa dan bagaimana Islam, ia rela ikut berpuasa. Padahal, ia belum merasa menjadi seorang muslim.

Dari situlah ia mulai mengerti manfaat dan kegunaan puasa dalam Islam. Salah satu ayat al-Qur'an menyebutkan tentang kewajiban seorang muslim untuk berpuasa, yang tujuannya  adalah untuk meningkatan ketakwaan. Tingkatan takwa seseorang bisa dicapai lewat berpuasa. Secara perlahan Andrew mencoba memahami ayat tersebut dengan menjalankan ibadah puasa. Pada hari pertama berpuasa, ia mengetahui bahwa berpuasa itu adalah menahan diri dari makan dan minum serta menahan nafsu birahi dari pagi hingga petang hari.

Dari pagi hingga petang ia tidak makan dan minum. Efeknya membuat pikirannya lebih  bisa di kontrol. Hal ini berbeda bila dibandingkan ia tidak berpuasa. Pikirannya akan tertuju pada makanan. Pada siang hari ia sudah berpikir tentang makan siang. Lebih  jauh dari itu, lanjut Andrew, berpuasa juga melatih displin diri. Yang dimaksud displin diri adalah bahwa berpuasa  bisa menjadi latihan tubuh agar tidak mudah memakan dan meminum yang tidak baik (tidak bergizi dan haram). Ketika ia tidak berpuasa, maka keinginannya untuk makan, makanan yang berkolesterol begitu tinggi. Namun setelah berpuasa, hal itu bisa dihilangkan dengan sendirinya. Yang lebih substantif  lagi adalah bahwa berpuasa melatih seseorang untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Misalnya bergosip, mencela, berkata kotor, dan sebagainya dengan sendirinya hal itu akan terkontrol manakala seseorang menjalankan ibadah puasa.

Anak pertama dari dua bersaudara dari keluarga beragama Buddha ini juga menceritakan bahwa perkenalannya dengan Islam secara khusus lewat sepupunya. Sejak, kecil ia di didik di tengah keluarga Buddha.  Ketika di bangku TK, SD dan SMP, ia masuk agama Kristen. Saat di bangku SMA ia bersekolah di yayasan Katolik. Dari sinilah ia bisa paham dan mengetahui tentang ajaran Kristen, Katolik, bahkan Buddha. Aku lalu memutuskan untuk beragama Kristen ketika menginjak dewasa. Satu waktu, sepupunya yang dari Surabaya sering bertandang ke tempatnya di Jakarta. Ia seorang muslim. Ketika datang ke Jakarta ia selalu mampir ke tempatnya. Setiap kali datang, Andrew sering memperhatikan dia melakukan shalat lima waktu. Dari situlah ia mulai memperhatikan Islam.

Secara tidak sengaja ia mulai memperhatikan sepupunya shalat. Ia melihat ada kenyamanan  saat sepupunya shalat. Sepupunya rajin shalat lima waktu. Andrew kemudian mulai tertarik dengan Al-Qur'an. Harus dengan bahasa Arab. Artinya, Kitab suci ini murni dan sesuai dengan aslinya. Tidak mungkin al-Qur'an  dipalsukan, baik dikurangi ataupun ditambah. Al-Qur'an hanya memiliki satu versi. Dia juga tertarik dan kagum pada isi buku tentang perbandingan agama. Dalam buku itu banyak sekali fakta-fakta terungkap pada setiap agama. Dia tidak menganggap bahwa agama lain salah .Tidak ! Hanya saja, dalam kesimpulannya. Islam memiliki kebenaran yang sesuai dengan apa yang dia cari.

Tapi, kala  itu, dia masih belum berani untuk masuk Islam. Dia masih takut dan ragu untuk menjadi muslim. Sepupunya lalu menganjurkan agar dia mencoba untuk puasa di bulan  Ramadhan. Kedengarannya aneh. Belum masuk Islam tapi sudah berpuasa. Hari pertama puasa memang terasa berat, tapi akhirnya dapat dilewati dengan baik. Aku sangat menikmati puasa percobaan itu. Karena rasa nikmat itulah, dia semakin yakin untuk masuk Islam. Dia lalu mencari informasi tempat yang tepat untuk berikrar dan search di internet.

Di Jakarta ini, menurut informasi, ada komunitas Tionghoa  muslim yang menjadi tempat  ikrar para mualaf, yaitu di Masjid Lautze, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Ia pun memutuskan untuk pergi ke masjid tersebut, dan akhirnya berikrar menjadi seorang muslim pada minggu akhir Ramadhan 1431 H, tepatnya 5 September 2010 M. Setelah resmi menjadi seorang muslim, teman-temannya ikut mendukung atas keputusannya masuk Islam. Dia sering meng-update status di twitter dan facebook. Banyak komentar dari teman-teman seraya memberi kekuatan hati atas pilihan agamanya yang baru ini.

Beberapa teman awalnya sangsi apakah dia akan bisa menjadi muslim yang sebenarnya, mengingat shalat tidak boleh ditinggalkan dalam ajaran Islam. Pagi-pagi, sebelum matahari terbit, dia harus bangun dan menjalankan shalat Shubuh. Memang sulit, tapi kalau dijalani akan terasa nikmat sekali. Di situlah sekantornya juga sering memberi masukan dan informasi mengenai Islam. Bahkan, mereka sering mengingatkannya soal shalat. Dia tidak melihat satu teman pun yang tidak sepakat dan menentang atas keputusannya menjadi mualaf, baik dari kawan sesama muslim maupun non-muslim.

Andrew juga merasa senang setelah mendengar ada kawannya yang berpacaran dengan wanita non-muslim, kemudian mereka terinspirasi untuk menjadi muslim setelah mendengar pengalamannya menjadi muslim. Setidaknya ini menjadi pengalaman menarik dalam hidupnya. Semoga saja istiqamah. Amien.......!!!!!!

Sumber : Majalah Hidayah
Kamu sedang membaca artikel tentang Cahaya Iman Dari Seorang Mualaf Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Cahaya Iman Dari Seorang Mualaf Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya