Akhir Penantian Ibunda Di Pagi Idul Fitri

Akhir Penantian Ibunda Di Pagi Idul Fitri ~ Hampir satu bulan Mak Siti (bukan nama sebenarnya) menghabiskan waktu senjanya di kursi tua yang sudah reot itu. Tetapi aktivitas itu bukan kali ini saja ia lakukan. Hampir setiap tahun, menjelang hari raya Idul Fitri, ia pasti seringkali terlihat duduk di beranda rumahnya sambil menatap keluar, seolah sedang menunggu seseorang yang sebentar lagi akan datang.


Mungkin, sebenarnya tidak ada yang layak ditunggu oleh Mak Siti. Ketiga anaknya yang lama pergi, sudah tidak jelas lagi rimbanya. Mereka bagaikan hilang ditelan bumi. Bahkan, sebenarnya perempuan itu sendiri sudah hampir kehilangan harapan. Berbagai berita yang datang tentang mereka tidak pernah lagi menjadi perhatiannya karena pada akhirnya toh anak-anak itu tidak pernah kembali, meskipun hanya sekadar menjenguk atau mencium tangannya.

Tetapi, sebagai seorang ibu, Mak Siti memang pantas untuk terus berharap. Di usia yang sudah memasuki senja (hampir 80 tahun) tidak ada kebahagian yang lebih dirindukannya selain berkumpul bersama anak-anaknya dan mendengar ceracau cucu-cucunya. Wajar saja jika setiap menjelang hari hari raya Idul Fitri naluri keibuannya menuntunnya untuk menunggu anak-anaknya di beranda itu. Ia berharap sesosok tubuh berdiri di ujung jalan sana mendekat perlahan dan tiba di depan pintu lalu mendatanginya dan mencium tangannya dengan penuh bakti.

Mak Siti selalu berharap sebelum ajal menjemputnya, ia bisa melewati hari raya Idul Fitri bersama anak-anaknya. Makan ketupat bersama, pergi shalat Id ke tanah lapang bersama  dan bersama-sama pula menziarahi makam suaminya yang telah lebih dahulu dipanggil Illahi. Tetapi ia juga sadar, bahwa semua itu hanyalah mimpi seorang perempuan tua di ujung usianya yang semakin terbatas. Sejak anak pertamanya pergi 30 (tiga puluh) tahun yang lalu. Mak Siti seolah sudah ditakdirkan harus rela kehilangan semua orang yang dicintainya. Dua anak lainnya menyusul beberapa tahun kemudian. Sementara suaminya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Ia kini hidup sebatang kara, mengisi masa-masa tua tanpa orang-orang terkasih disisinya.

Menurut penduduk setempat yang tidak mau disebut namanya anak pertama Mak Siti, sebut saja namanya Tajudin (sekarang usianya hampir 60 tahun) pergi merantau ke Kuala Lumpur pada tahun 1972. Ia terpaksa pergi ke ibu kota Malaysia itu setelah jalinan asmaranya dengan seorang gadis di kampungnya harus berakhir karena orang tua si gadis tidak menyetujuinya. Mak Siti dan suaminya sudah melarangnya pergi, tetapi rupanya Tajudin sudah merasa malu hidup di kampungnya. Ia merasa terhina karena lamarannya ditolak oleh orang tua sang kekasih. Bahkan, menurut beberapa orang yang pernah dekat dengannya, ia sudah berjanji tidak akan kembali lagi ke kampungnya.

Dengan bekal beberapa ringgit pemberian Mak Siti, Tajudin pun berangkat ke Kuala Lumpur. Beberapa bulan pertama, Tajudin sempat memberikan kabar keberadaannya di sebuah kilang (perusahaan) di pinggiran Kuala Lumpur. Tetapi setelah hampir setahun, lelaki itu tak pernah lagi terdengar kabarnya. Adiknya, Mohamad Noor menyusul dua tahun kemudian. Ketika hendak pergi, anak kedua Mak Siti ini berjanji akan mencari kakaknya di Kuala Lumpur dan segera pulang jika sudah mengetahui kabar kakaknya. Akan tetapi, di Kuala Lumpur ia tidak menemukan kakaknya. Alamat yang pernah diberikan oleh Tajudin coba didatangainya, tetapi menurut pemilik rumah sewa (kost) sudah lama Tajudin pindah dan tidak jelas kemana pindahnya.

Bukan kembali ke kampung halamannya, Mohamad Noor yang gagal menemukan jejak kakaknya, malah memilih ikut temannya ke pulau Penang. Beberapa bulan pertama, ia masih berkirim kabar, tetapi akhirnya ia pun tak jelas rimbanya. Kepergian dua anaknya yang pertama membuat Mak Siti dan suaminya berhati-hati menjaga perasaan anak bungsunya. Mereka berharap si bungsu, Osman, akan tetap berada disisi mereka. Tetapi, ternyata mereka tidak mampu menghalangi keinginan anaknya untuk mencari kerja ke Singapura. Kebetulan, Osman adalah satu-satunya anak Mak Siti yang sedikit berpendidikan. Tidak berbeda dengan  kakak-kakaknya Osman pun berjanji akan kembali dan tetap berkirim kabar ke rumah setiap bulannya. Tetapi, setelah lebih dari satu tahun, ia pun tidak pernah lagi kambali. Jangankan kembali atau sekedar menjenguk kedua orangtuanya, mengirim kabar pun tak pernah lagi ia lakukan.

Kepergian ketiga anaknya membuat Mak Siti dan suaminya merasa kehilangan Kasih sayang yang telah mereka berikan keada anak-anaknya itu seolah tidak ada artinya. Padahal, Mak Siti dan suaminya tidak pernah berpikir meminta balasan apa pun kepada mereka. Yang diharapkan keduanya hanyalah kehadiran mereka. Tetapi sampai suami Mak Siti wafat, ketiga anaknya tidak juga kembali. Sebenarnya, ketika suami Mak Siti sakit, Mak Siti berharap besar salah satu anaknya datang. Beberapa orang kampung yang biasa pergi merantau ditanyainya dan diminta menyampaikan kabar tentang sakit suaminya kepada anak-anaknya. Pada saat suaminya sakit itulah saat terakhir ia mempercayai kabar dari kampung tentang anak-anaknya.

Setelah mengetahui anak-anaknya tidak peduli lagi kepada ayahnya yang sedang sakit Mak Siti mulai menyadari, bahwa ia tidak bisa lagi mengharap kedatangan anak-anaknya. Jika ayahnya sedang sakit keras saja mereka tidak mau datang menjenguk, bagaimana mungkin mereka mau kembali ke kampung halamannya ? Sejak saat itulah Mak Siti mulai tidak peduli lagi dengan kabar-kabar tentang anak-anaknya yang dibawa oleh penduduk kampungnya yang pulang merantau dari berbagai tempat. Ia sadar, ia harus belajar untuk tidak berharap apa pun kepada anak-anaknya. Kepergian suaminya ke alam baka tentu saja menorehkan kesedihan yang dalam di hati perempuan tua itu. Jika hari-hari kemarin ia masih bisa berbagi beban kepada suaminya, kini ia harus menghadapi semua persoalan hidup sebatang kara. Apalagi ia, tidak punya seorang pun famili di kampung  itu, karena ia dan suaminya sebenarnya perantau. Hanya karena sudah tinggal lama dan memiliki rumah di sana, ia sudah menjadi bagian penduduk kampung itu.

Mak Siti bukan hanya menanggung sendiri kerinduannya kepada anak-anaknya dan suaminya, tetapi ia juga harus bekerja keras menghidupi dirinya sendiri. Di saat tenaganya sudah mengendor, tulang-tulangnya semakin rapuh dan napas yang tersengal-sengal, Mak Siti masih harus mencari kayu bakar di hutan pinggir kampung. Meskipun tubuhnya sudah tidak kuat lagi, perempuan itu tetap saja melakoni pekerjaan itu, meskipun semakin hari semakin sedikit saja kayu yang mampu ia bawa pulang.

Sambil menggendong potongan-potongan kayu bakar dipinggangnya, terkadang Mak Siti sempat melamun. Ia selalu membayangkan, seandainya saja anak-anaknya berada disampingnya mungkin ia tidak perlu bersusah payah membawa beban seberat itu. Tapi, ia kemudian menyadari, tak seorang pun anaknya yang berada di sampingnya. Jangankan untuk meringankan beban hidupnya, berkirim kabar pun tidak mau lagi mereka lakukan, apalagi untuk berbakti dan mengurus seorang perempuan tua seperti dirinya.

Mungkin benar kata pepatah Melayu, satu orang ibu mampu menjaga dan membesarkan sepuluh orang anak, tetapi sepuluh orang anak belum tentu mampu menjaga dan merawat satu orang ibu. Demikian pula yang terjadi pada Mak Siti. Ia dan suaminya telah  berusaha merawat, mendidik, dan memberikan kasih sayang yang tulus kepada anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Setiap hari ia dan suaminya bekerja keras membanting tulang demi memenuhi kebutuhan mereka, tapi tak seorang pun dari mereka yang mampu berbakti kepada kedua orang tuanya.

Padahal, Islam mengajarkan agar seorang anak harus membalas budi dan kasih sayang orang tuanya. Jika ibu  bapak kita sudah tua, fisik dan tenaganya mulai melemah, maka kita sebagai anaknya berkewajiban untuk menjaga dan memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Kita harus sabar menjaga mereka, sebagaimana mereka dengan sabar dan penuh cinta kasih membesarkan kita.

Allah swt, berfirman...... “Dan hendaklah  kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu sebaik-baikya. Jika salah seorang diantara keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali kamu jangan mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah!” dan janganlah maku membentak mereka dan ucapkanlah  kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra ayat 23).

Ayat tersebut tampaknya tidak ada artinya di mata anak-anak Mak Siti. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan nasib orang tuanya. Jangankan untuk peduli dan berbakti, mencari tahu keadaan orang tuanya saja tidak pernah mereka lakukan. Anak-anak Mak Siti seolah-olah sengaja pergi menjauhi ibunya yang jelas membutuhkan kehadiran mereka. Padahal bukan  harta dan materi yang dibutuhkan Mak Siti dari anak-anaknya. Kehadiran mereka saja sesungguhnya sudah merupakan mata air penyejuk yang mampu mengobati kerinduan dan duka nestapanya. Tapi Mak Siti tetap saja harus menanggung duka sebatang kara, karena tak satu orangpun anaknya yang mau kembali, meskipun hanya untuk menengok keadaannya sebentar saja.

Itulah yang seringkali membuat Mak Siti tak mampu membendung air matanya. Tetapi, sebagai orang yang taat beragama, ia mampu menghadapi semua itu dengan tabah, tanpa harus meminta belas kasih sayang orang lain. Ia menganggap apa yang kini dihadapinya hanyalah ujian dari Allah swt semata. Ia menyadari, seorang anak hanyalah titipan. Jika Allah hendak mengambilnya baik dalam keadaan hidup maupun mati tidak ada yang berhak menghalanginya. Begitu pula ia memandang anak -anaknya. Sebenarnya, di usianya yang sudah uzur tak banyak yang mampu Mak Siti lakukan. Tubuhnya yang semakin rapuh tak bsa lagi diajak berjalan jauh menyusuri hutan dan membawa kayu bakar dalam jumlah besar.

Beruntung Mak Siti punya pekerjaan lain. Setiap menjelang Magrib, perempuan itu mengajar beberapa kanak-kanak untuk mengaji di serambi rumahnya. Pekerjaan terakhir ini memang sudah lama ia jalankan bersama suaminya dulu. Maklumlah, suami-istri tu terkenal sebagai guru mengaji di kampungnya, sebuah kampung kecil di Melaka, Malaysia. Hanya saja, sejak kepergian suaminya, anak-anak yang mengaji kepadanya semakin sedikit. Bayaran dari mengajar mengaji pun tidak seberapa, karena ia lebih menganggapnya sebagai amal untuk mencari pahala ketimbang mencari nafkah. Apalagi, setiap bulan Ramadhan, biasanya kegiatan mengajar mengaji diliburkan.

Begitulah Mak Siti. Hampir setiap tahun menjelang Idul Fitri, ia selalu duduk diberanda rumahnya, menatap jauh keluar, berharap keajaiban akan datang membawa anak-anaknya kembali. Tapi harapan itu tak pernah terwujud. Sampai akhirnya penantiannya berakhir tanggal 1 Syawal tahun lalu. Tahun itu tampaknya merupakan tahun yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya bagi Mak Siti. Biasanya, jika  tahun-tahun sebelumnya dia hanya terlihat menunggu anak-anaknya di beranda itu beberapa hari menjelang hari raya Idul Fitri atau paling tidak pada malam takbiran... tetapi tahun itu ia sudah terlihat diberanda itu sejak awal Ramadhan.

Tampaknya perempan sepuh itu sudah memiliki firasat akan terjadinya sesuatu pada dirinya. Mungkin ia menyadari bahwa ajalnya sudah semakin dekat, sementara kabar dari anak-anaknya tak juga jelas juntrungannya. Memang tak ada yang layak ia wariskan kepada anak-anaknya, kecuali rumah reot yang menjadi tempatnya berteduh. Tetapi sebagai manusia biasa ia ingin mengakhiri hidup ditengah-tengah keluarganya, di tengah anak-anak dan cucunya. Tapi penantian Mak Siti harus berakhir dimakan usia. 

Malam takbiran tahun lalu, adalah malam terakhir penantian wanita itu. Malam itulah untuk terakhir kalinya ia memandangi lagi foto anak-anaknya yang semakin kusam tergantung di dinding ruang tamu. Menurut beberapa  penduduk kampung yang malam itu sempat menjenguknya. Mak Siti itu tampak berbeda dari hari-hari biasanya. Wanita itu tampak kurang memperhatikan para tetangga yang menemuinya. Ia lebih sering membuang pandangan ke deretan tiga foto anaknya yang menempel di dinding seolah tak lepas memandang foto anak-anaknya itu. Itulah saat terakhir tetangganya melihat  Mak Siti dalam keadaan masih hidup.

Esoknya, ketika fajar Idul Fitri menyingsing, semua penduduk, baik orang tua, pemuda maupun anak-anak pergi ke tanah lapang untuk meninggikan syiar Islam lewat shalat Idul Fitri secara berjamaah. Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru kampung. Suasana kampung tampak semarak meskipun sejak tadi malam angin pantai bertiup sangat kencang. Angin yang cukup kencang ini memang agak mengurangi kemeriahan hari raya kali ini. Halaman jadi susah untuk dibersihkan, karena sampah-sampah akan datang yang dibawa angin dari tempat lain. Akan tetapi Shalat Idul Fitri tetap dilaksanakan dengan hikmat dan suka cita.

Ketika penduduk kampung pulang dari tanah lapang tempat shalat dilaksanakan, beberapa tetangga yang lewat di depan rumah Mak Siti terkejut bukan kepalang. Mereka melihat rumah Mak Siti yang reot ini kini sudah roboh ke tanah. Rupanya angin pantai yang cukup kencang membuat rumah reot itu tak mampu bertahan. Tapi pelepah kelapa dan dinding dari bambu yang menjadi bahan utama rumah itu tumpang tindih tak beraturan.

“Astagafirullah al-Adziim!” kemana Mak Siti? Kemana Mak Siti?” tanya para tetangga yang melihat rumah itu. Mereka pun mencari -cari Mak Siti. Mereka  mengira Mak Siti mungkin masih dalam perjalanan dari tempat shalat tetapi perempuan itu tak juga datang. Akhirnya para tetangga membongkar-robohkan rumah itu dan menemukan tubuh Mak Siti terbujur dihimpit tiang rumah. Wanita itu ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia. Para tetangga menyangka Mak Siti mungkin hendak bersiap pergi ke tanah lapang ketika peristiwa itu terjadi  karena, perempuan itu ditemukan dalam keadaan memakai pakaian shalat dan ditangannya tersampir sehelai sajadah tua yang sudah kusam.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”!

Demikianlah garisan nasib yang harus diterima Mak Siti. Tidak semua orang yang mendapat kemalangan adalah orang-orang berdosa. Adakalanya, orang beriman pun mendapat kemalangan yang berat, sebagai ujian bagi kesabaran dan keimanan mereka. Beruntung ia didapat wafat dalam keadaan memakai pakaian shalat dan membawa sajadah. Semoga Mak Siti benar-benar menerima khusnul khatimah. Amien...!!!

Sumber : Majalah Hidayah
 
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Akhir Penantian Ibunda Di Pagi Idul Fitri Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Akhir Penantian Ibunda Di Pagi Idul Fitri Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya