Kisah Sedekah Dengan Mobil, Menyelamatkan Dari Meja Hijau

Kisah Sedekah Dengan Mobil, Menyelamatkan Dari Meja Hijau ~ Astaghfirullah! Dari mana Ramjid mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang begitu singkat? Dalam ribuan minggu pun rasanya Ramjid tak akan dapat mengumpulkan uang miliaran rupiah.


Manusia tak bisa memprediksi kapan musibah itu datang. Ia bisa menimpa siapa saja. Karenanya, yang bisa dilakukan manusia hanyalah “la haula wala quwata ilaa billah”. Pasrah kepada Zat Yang maha Kuasa dan Zat Yang Maha Mengetahui.

Ramjid, seorang lelaki muda, bertubuh tegap dan atletis, adalah seorang pekerja keras. Banyak  hal positif yang dilakukannya dalam mengisi waktu. Mungkin, baginya, adalah satu kebodohan jika tidak dapat mempergunakan masa dengan sebaik-baiknya, maunya hanya berhela-hela saja tanpa harus memikirkan mau jadi apa kelak?

Kerja keras dan selalu berpikir positif adalah satu keharusan jika seseorang ingin meraih kesuksesan. Dalam segala hal, dalam segala bidang, kerja keras dan berpikir positif mutlak diperlukan.

Buah manis bernama sukses, hasil dari kerja keras dan selalu berpikir positif telah diraih Ramjid. Beberapa usaha yang diharapkannya. Terutama usahanya di bidang  tambang Batubara. Ada kebahagiaan dan kebanggaan  di hati Ramjid melihat pencapaian yang telah diraihnya dalam bisnis batu bara ini, namun  siapa sangka musibah tiba-tiba datang merangkulnya. Musibah yang sama sekali jauh dari pikirannya, kini begitu dekat dan membuat Ramjid sungguh bersusah hati. Sebuah modus penipuan nyaris menenggelamkannya ke ruang gelap dan pengap, jeruji besi.

Tanpa Firasat

Seperti biasa, Ramjid tak pernah berburuk sangka kepada siapapun yang hendak berbisnis dengannya. Su’udzon itu jauh dari hatinya, sebab Su’udzon dapat menjadi faktor penghambat atas kelancaran usahanya. Karena itu, ketika ada seseorang berkeinginan mengembangkan kerjasama jual-beli batubara, maka dengan suka cita dan tanpa curiga Ramjid menyambut dan percaya sepenuhnya.

Kepercayaan yang diberi Ramjid disambut simpatik oleh rekan bisnis barunya itu. Hal tersebut dibuktikan dengan lancarnya pembayaran itu berlanjut pada rencana jual-beli berikutnya. Seperti  biasa, setelah perjanjian sama-sama disepakati, bisnis itu pun kembali bergulir dengan harapan tak ada kendala.

Seperti biasa, Ramjid tetap husnudzon dan merasa rekan bisnisnya akan menaati kelancaran pembayaran yang sudah disepakati. Namun, tanpa mengalami firasat apa pun, tiba-tiba saja kendala datang menyambangi, rekan bisnis Ramjid mulai mengulur waktu. Pembayaran mulai ditunda-tunda, semakin lama semakin panjang jangkanya, kemudian perlahan menghilang tanpa kabar. Dan selanjutnya rekan bisnis Ramjid, raib seperti di telan bumi.

Kebingungan tentu saja menyerap dan membungkus hati Ramjid. Rasa takut  pun sedikit mulai menteror. Semakin lama, bentuk ketakutan Ramjid semakin jelas, terlebih ketika persoalan itu sudah sampai ke tangan yang berwajib. Astaghfirullahal’Adzim!. Apa yang harus dilakukan Ramjid?

Pada panggilan pertama ke kantor polisi, Ramjid datang hanya sebagai saksi atas masalah yang terjadi. Meskipun pihak pemilik batubara menyeret Ramjid sebagai orang yang harus bertanggung jawab, namun status yang ditetapkan untuk Ramjid masih sebagai saksi. Status itu masih menunggu perkembangan  kasus baru yang akan berubah seiring dengan kejelasan permasalahannya.

Menjadi saksi atau pun tersangka, bagi Ramjid tetaplah sebuah masalah besar yang harus segera diselesaikan. Terkecuali jika Ramjid mampu mengembalikan sejumlah uang yang nota bene di bawa lari oleh rekan bisnis Ramjid. Ramjid harus bertanggung jawab sepenuhnya, meskipun dalam kasus ini Ramjid adalah orang yang tertipu.

Waktu terus bergulir berteman resah dan galau. Namun keadaan seperti itu harus tetap dijalani Ramjid. Ia belum bisa berpaling dari persoalan ini, ketika pihak berwajib kembali memanggil untuk yang kedua kalinya dan lagi-lagi Ramjid tidak mampu mengelak. Meskipun pada panggilan yang kedua ini status Ramjid tetap sebagai saksi. Bukan mustahil, jika kejernihan persoalan ini belum menampakkan diri, status Ramjid akan meningkat jadi tersangka. Ini sangat menakutkan.

Manakala sidang kedua dilakukan, ketakutan Ramjid semakin menggurita. Posisinya semakin melemah. Bayang-bayang meja hijau semakin melengkapi ketakutannya. Sebab, dalam sidang kedua itu, jika Ramjid ingin keluar dari masalah yang menjeratnya, ia harus menyiapkan uang  yang jumlahnya miliyaran rupiah hanya dalam tempo tujuh hari.

Astaghfirullah! Dari mana Ramjid akan mendapatkan uang yang sebanyak itu dalam waktu yang begitu singkat? Dalam ribuan minggu pun rasanya Ramjid tak akan dapat mengumpulkan uang miliyaran rupiah. Ramjid pun, terjerat dalam renungan yang panjang, terkurung dalam kerangkeng kebingungan. Haruskah dirinya berjibaku  untuk mencari  uang miliyaran rupiah dalam tempo yang  sangat singkat? Ataukah ia memasrahkan dirinya untuk diseret ke meja hijau, kemudian dijebloskan ke ruang tahanan yang menyiksa ?

Kalau pun Ramjid berjibaku  mencari uang dengan mengumpulkan selurub harta  yang ia miliki, itu masih sangat jauh dari menyukupi. Sebuah mobil yang ia miliki, tak akan mencapai nilai ratusan juta rupiah. Ramjid pun mulai kalut. Harus bagaimana dirinya? Dalam suasana kalut yang akut itu, seketika Ramjid ingat perkataan seorang mubaliqh. ”Bersedekahlah kalian, sesungguhnya sedekah itu dapat mengatasi berbagai kesusahan, penyakit, utang dan sebagainya.” 

Mengingat perkataan itu, ada semangat yang tiba-tiba menyengat. Anda gairah yang membangkitkan keinginan untuk bisa keluar dari jerat persoalan. Ramjid bangkit. Ia ingin bersedekah dengan ikhlas, ia hampir melupakan itu. Dan kini, Ramjid akan menyedekahkan harta paling berharga satu-satunya yang ia punya. Serta merta ia bangkit dan mengambil kunci yang tergeletak di meja kerjanya. Kunci mobil itu ditimang-timangnya sesaat.

 “Akan saya sedekahkan mobil ini ke panti asuhan. Pasti sangat besar manfaatnya untuk mereka, “ bathin Ramjid semakin mantap. Maka tak membuang waktu lagi Ramjid bergerak menuju panti asuhan yang terdekat. Di sana ia langsung menyerahkan kunci dan kendaraan untuk dipergunakan sebagai sarana akomodasi panti asuhan. Tentu saja sedekah Ramjid diterima oleh pimpinan panti asuhan dengan suka cita. Untaian doa pun terucap dari mulut pimpinan itu. Ramjid terharu, kemudian pergi meninggalkan panti asuhan itu.

Berkah Sedekah

Selang beberapa hari setelah menyedekahkan kendaraannya, disebuah pusat perbelanjaan Ramjid bertemu dengan lelaki yang berusia 60 tahunan, Ramjid mengenali lelaki itu, ia adalah ayah dari teman  sekolahnya dulu.

Pertemuan tanpa sengaja itu melahirkan percakapan yang serius, hingga ke masalah pekerjaan. Ramjid, dengan tak banyak pikir, menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Penipuan dalam jual-beli batubara itu sungguh membuatnya takut.

Cerita lengkap Ramjid membuat ayah temannya itu berkesimpulan bahwa persoalan itu murni penipuan. Sebagai korban, Ramjid selayaknya mendapat bantuan, bukan tuduhan.

Ayah teman Ramjid itu bertanya, siapakah pengusaha batubara itu? Dengan spontan Ramjid menyebutkan sebuah nama. Dengan spontan juga ayah teman Ramjid menyambut.” Dia teman baik saya dalam bisnis batubara.”

Ada harapan yang tiba-tiba mencuat dalam dada Ramjid. Semoga ayah temannya itu dapat membantunya keluar dari persoalan yang mengerikan ini.  “Kita temui dia sekarang. Saya yakin dia dapat memaklumi persoalan yang murni penipuan ini,” ajak ayah teman Ramjid.

Harapan Ramjid semakin menggunung, ketika ayah teman Ramjid bertemu dengan teman bisnisnya dengan mengakui Ramjid sebagai kemenakannya, kemudian menjelaskan persoalan yang sebenarnya yang dialami Ramjid. Maka hari itu juga, warna langit berubah cerah. Bola mata Ramjid pun jadi berbinar, karena orang yang telah membawa persoalan penipuan ini ke pihak, karena orang yang telah membawa persoalan penipuan ini ke pihak  berwajib berjanji akan menarik tuntutannya dan akan membebaskan Ramjid dari segala tuntutan dan kewajiban mengembalikan uang  yang bernilai miliyaran rupiah itu.

Allahu Akbar. Ada puji-pujian rasa syukur yang menggema di dada Ramjid. Dan Ramjid  semakin yakin dengan kekuatan sedekah. Dengan keikhlasan sedekahnya yang tidak seberapa, Ramjid menerima berkah terbebas dari dakwaan meja hijau dengan tuntutan miliyaran rupiah. Alhamdulillah…………!!!!

Oleh Eep Khunaefi
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Sedekah Dengan Mobil, Menyelamatkan Dari Meja Hijau Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Sedekah Dengan Mobil, Menyelamatkan Dari Meja Hijau Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya