Kisah Amar bin Jamuh

Dunia Nabi ~ Amar bin Jamuh adalah seorang bangsawan yang dermawan di Madinah. Orang-orang pun sangat menghormatinya. Salah satu  kakinya pincang sejak kecil. Sekalipun demikian, ia tetap beraktivitas seperti halnya orang normal.

Pada masa itu, ajaran Islam mulai menyebar di wilayah Madinah. Beberapa penduduk Madinah telah memeluk agama Islam. Namun, Amar bin Jamuh tidak menyadari kedatangan Islam. Ia tidak mengetahui bahwa orang-orang di sekelilingnya telah memeluk agama Islam. Ia hanya merasa kebingungan karena orang-orang mulai menjauhinya. Amar bin Jamuh pun merasa sangat risau.


Bangsa Arab pada umumnya adalah penyembah berhala. Di antara mereka banyak yang menyediakan ruangan khusus di rumahnya untuk menyembah berhala yang dilengkapi dengan patung berhalanya. Amar bin Jamuh pun demikian Ia memiliki berhala yang bernama Manaf. Kepada berhalanya, ia mengadu tentang permasalahan yang dihadapinya.

Semakin lama, ajaran Islam semakin banyak pengikutnya di Madinah. Hal itu terjadi setelah dua belas orang datang kepada rasulullah. Mereka  menyatakan baiat atau sumpah setia untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketika itu, Amar bin Jamuh tidak menyadari bahwa anak-anaknya dan sahabatnya telah memeluk agama Islam. Setelah semakin banyak pengikutnya, tujuh puluh orang muslim pergi ke Mekkah. Di antara mereka terdapat anak lelaki Amar  bin Jamuh. Muadz bin Amar dan sahabat Amar bin Jamuh yang bernama Abu Jabir. Abu Jabir adalah juga saudara ipar Amar bin Jamuh. Ketujuh puluh orang melakukan baiat (sumpah setia) kepada Rasulullah di Bukit Aqabah, Baiat itu dikenal dengan nama Baiat  Aqabah kedua.

Lama-kelamaan, Amar bin Jamuh mengetahui perkembangan ajaran Islam. Ia pun sangat kecewa karena orang-orang telah meninggalkan agama nenek moyang mereka. Ia semakin kecewa ketika mengetahui keempat  anaknya dan sahabatnya telah memeluk agama Islam. Saat itu, Amar bin Jamuh merasa tidak dihargai dan disingkirkan oleh orang-orang terdekatnya.

Keislaman Amar bin Jamuh

Anak-anak Amar bin Jamuh mengajak Amar bin Jamuh untuk memeluk agama Islam. Namun, Amar bin jamuh menolaknya. Bahkan, ia menolak bertemu dengan anak-anaknya. Ia menghabiskan waktunya di kamar bersama dengan tuhannya, manaf.

Anak-anaknya telah berusaha menjelaskan kepada Amar tentang berhala yang tidak memberi manfaat apa pun. Akan tetapi, Amar tetap pada pendiriannya . Anak-anak  Amar hampir putus asa untuk berdakwah kepada ayahnya.

Kemudian, anak-anak Amar berbicara dengan Abu Jabir. Mereka bersepakat untuk menyadarkan Amar dengan cara tertentu.malam hari saat Amar tertidur, anak-anak Amar mengambil berhala manaf dan membuangnya ke tempat pembuangan kotoran manusia. Saat  Amar  bangun dan mendapati berhalanya tidak ada, ia sungguh terkejut. Ia marah bukan  kepalang ketika mengetahui berhalanya dibuang  ketempat kotoran manusia. Ia pun segera mengangkat dan membersihkan berhalanya. Amar juga menyebarkan wewangian pada berhalanya.

Baca juga :
Pada malam berikutnya, anak-anak Amar kembali mengambil berhala dan membuangnya ke tempat kotoran. Pagi harinya, Amar bin Jamuh kembali marah-marah karena berhalanya dibuang ke tempat kotoran. Karena sangat jengkel. Amar memasang pedangnya di leher berhala manaf dan berkata, “Kalau engkau benar-benar tuhan yang membawa kebaikan, pertahankanlah dirimu dari orang-orang yang mengganggumu.”

Pada pagi harinya, Amar tetap saja  mendapati berhalanya di tempat kotoran. Kali ini lebih parah lagi, bangkai anjing terikat pada berhala Manaf. Amar pun sangat kecewa. Saat itu, ia hanya diam dan tidak mengambil berhala Manaf.

Suatu hari, seorang sahabatnya yang telah menjadi muslim berkata, “Wahai Amar, bukankah berhala itu tidak memberikan manfaat apapun?”. Perkataan sahabatnya menyentuh pikiran dan hati Amar. Beberapa waktu kemudian, Amar mandi dan memakai wewangian. Ia mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Rasulullah yang saat itu telah berhijrah ke madinah. Anak-anak Amar bersyukur karena Amar telah menyadari kebenaran dalam ajaran Islam.

Setelah memeluk agama Islam, Amar bin Jamuh semakin banyak menafkahkan hartanya untuk sedekah. Ia menyumbangkan hasil keuntungan dari kegiatan dagangnya untuk kepentingan umar. Orang-orang pun sangat menghormatinya.

Pada suatu ketika, Rasulullah menemui kaum Bani Salamah. Rasulullah bertanya, “Siapakah pemimpin kalian?”. Salah seorang di antara mereka  menjawab, “Pemimpin kami  adalah Al-Jaddu bin Qais. Sayangnya, ia adalah orang yang kikir”. Rasulullah berkata, Adakah penyakit yang lebih parah dibandingkan kikir? Mulai saat ini, pemimpin kalian adalah si putih keriting. Amar bin Jamuh.” Kaum Bani Salamah menyetujui pengangkatan Amar bin Jamuh menjadi pemimpin mereka. Sejak saat itu, Amar bin Jamuh menjadi pemimpin kaum Bani Salamah. Ia adalah pemimpin yang sangat dermawan dan dihormati oleh kaumnya.

Amar bin Jamuh Turut Berjuang

Pada suatu masa, Rasulullah saw menyeru kaum muslim untuk berjihad membela agama Allah. Kaum muslim di Madinah, menjawab seruan Rasulullah dengan menyiapkan berbagai peralatan perang. Mereka bersiap untuk memerangi musuh Allah di Badar.

Salah seorang yang bersiap diri adalah Amar bin Jamuh. Namun, anak-anaknya melarang Amar untuk ikut berperang. “Ayah tidak memiliki kewajiban untuk berperang karena kaki ayah yang pincang”. Kata anak-anak Amar. Namun, Amar tetap bersikeras untuk ikut berperang. Karena tidak berhasil membujuk ayahnya, anak-anak Amar pergi menemui Rasulullah . Mereka menginginkan agar Rasulullah melarang ayah mereka untuk tidak ikut berperang. Rasulullah pun melarang Amar bin Jamuh berperang. Akhirnya, Amar tidak ikut berperang di Badar.

Beberapa lama kemudian, Rasulullah kembali menyeru kaum muslim untuk berperang  di medan Uhud. Saat itu, Amar bin Jamuh memiliki keinginan yang kuat untuk ikut berijihad. Anak-anaknya  kembali melarang Amar untuk berperang dengan alasan yang sama. Kali ini, Amar tidak memperdulikan nasihat anak-anaknya. Ia menemui Rasulullah dan meminta izin untuk ikut berperang. “Wahai Rasulullah, aku sangat menginginkan surga dengan kakiku yang pincang ini. Izinkanlah aku untuk ikut berjihad,” kata Amar. Melihat tekad Amar yang sangat kuat, Rasulullah mengizinkan Amar ikut berperang.

Amar bin Jamuh sangat senang. Ia segera bersiap diri ke medan perang. Ia dan seribu pasukan muslim berangkat ke Uhud. Di tengah perjalanan, jumlah pasukan muslim berkurang  menjadi tujuh ratus tentara. Hal ini  terjadi karena pemberontakan yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay. Ketika itu, Abdullah berhasil membujuk tiga ratus tentara muslim untuk kembali ke Madinah.

Saat sampai di Bukit Uhud, Rasulullah menempatkan 50 orang pemanah terbaik dari tentara muslim. Rasulullah berpesan kepada para pemanah  untuk tidak meninggalkan pos-pos mereka walaupun apa yang terjadi.

Perang berlangsung dengan sengit. Pasukan muslim berhasil mendesak pasukan Quraisy. Pasukan Quraisy pun kocar-kacir. Sebagian pasukan Quraisy mundur dari medan perang dan meninggalkan harta rampasan yang cukup banyak.

Harta rampasan itu menggoda para pemanah. Sebagian pemanah meninggalkan pos mereka untuk mengambil harta  rampasan. Saat pemanah-pemanah mengambil  harta rampasan, pasukan  Quraisy melakukan penyerangan dari belakang. Akibatnya, para pemanah tidak mampu memberikan perlawanan secara maksimal. Selain itu, pasukan Quraisy juga menyerang pemanah-pemanah yang masih  berada di pos mereka. Namun,  jumlah pemanah kalah banyak dibandingkan dengan pasukan Quraisy. Keadaan menjadi berbalik. Pasukan muslim dalam keadaan terdesak.

Pasukan muslim yang terakhir berusaha untuk bertahan. Di antara mereka yang bertahan adalah Abu jabir dan Amar bin Jamuh. Sayangnya, Abu Jabir terkena panah dari pihak musuh. Ia gugur Tidak lama kemudian, Amar bin jamuh juga mati syahid menyusul sahabatnya. Sebilah pedang telah menembus tubuhnya. Keinginan Amar untuk mati syahid pun dikabulkan oleh Allah swt. Perang Uhud berakhir dengan kemenangan pasukan Quraisy.

Jenazah  Abu Jabir dan Amar bin Jamuh dikuburkan secara bersama-sama. Ketika itu, Rasulullah bersabda, “Kuburkanlah Amar bin jamuh dan abu Jabir dalam satu makam karena mereka adalah dua orang sahabat yang saling menyayangi semasa hidup mereka.”  Demikianlah, Amar bin Jamuh dan Abu Jabir bersahabat di dunia dan di surga.

Bagaimana  keadaan Amar bin jamuh setelah mati syahid? Rasulullah bersabda, “Demi Allah, aku melihat Amar bin Jamuh menginjakkan kakinya yang pincang ke dalam surga.”

Dalam Al-Qur’an , Allah swt menerangkan keadaan orang yang mati syahid dalam surat Ali Imran ayat 169-170. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat reziki.” Mereka hidup dalam alam yang lain. Mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui kehidupan mereka.

Oleh Sugiasih, S.Si.
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Amar bin Jamuh Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Amar bin Jamuh Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya