Kisah Nyata Pengalaman Ibadah Haji Pak Edi

Dunia Nabi ~ Plak…!! Tamparan itu kembali mendarat di pipiku. Sudah enam kali aku mendapat tamparan yang sama. Tapi kali itu tamparannya lumayan keras, membuat kepalaku pusing. Aku hampir oleng. Kuraba mulutku, terasa basah. Ada sedikit darah di sana. Kulihat ke sekelilingku untuk mengetahui siapa yang menamparku. Aku ingin sekali membalas orang yang menamparku tadi. Namun orang-orang di sekitarku semua tampak khusyu, tenggelam dalam suasana ibadah mereka. Aku, yang sudah terpental dari arus thawaf, tercengang. Mengapa demikian sulit mencium hajar aswad. Aku sering mendengar cerita dari orang-orang yang pernah menunaikan ibadah haji, untuk dapat mencium hajar aswad kita harus tawakal, berserah diri, pasrah kepada Allah swt. Insya Allah dengan sendirinya akan ada aliran energi akan mempermudah kita mencium batu dari surga tersebut.


Aku kembali berusaha mencium hajar aswad dengan segala kepasrahan diri. Kubiarkan tubuhku terombang-ambing oleh pusaran manusia. Hajar aswad semakin dekat, tampak bingkainya. “Ya Allah, izinkan aku mengikuti sunnah Rasulullah, biarkan aku mencium hajar aswad itu…. “Plak…!” Tiba-tiba tamparan yang lebih keras kembali mendarat di mukaku. Kali itu benar-benar membuatku terhuyung, kepalaku sakit sampai-sampai aku memejamkan mata menahan sakit. Aku kembali berada di luar putaran thawaf. Dalam keadaanku antara sadar dan tidak, ketika itu diperlihatkan perbuatanku ketika di tanah air. Aku adalah seorang pemimpin di sebuah instansi keamanan Negara di Jakarta. Sebut saja namaku Edi. Aku orang yang cukup berpengaruh. Anak buahku banyak. Mereka menuruti semua perintahku.

Setiap mereka melakukan kesalahan, walaupun itu kecil, aku tak sungkan menampar mereka. Aku ingin menunjukkan bahwa akulah pemimpin mereka yang harus dihormati, disegani, dan dilaksanakan setiap perintahnya. Akulah yang berkuasa, mereka tidak boleh main-main dengan perintahku. Aku tidak suka anak buahku berbuat kesalahan sekecil apapun. “Astaghfirullah…” Aku terhenyak….. begitu kejam diriku. Dadaku terasa sesak. Aku pun tersungkur bersujud memohon ampun kepada Allah Sang Maha Penguasa. Sungguh keterlaluan diriku. “Anak-anak” itu adalah manusia juga, yang tak luput dari kesalahan. Kesalahan kecil ataupun besar, tak seharusnya aku bermain tangan. Semua ada aturannya. Di tanah suci itu, tamparan demi tamparan aku terima. Tapi pada tamparan yang ketujuh itulah aku baru sadar akan kesalahanku itu…..

Astaghfirullah…. Sungguh terlalu aku ini. “Ya Allah… ampuni aku….” Aku tak kuasa mengangkat wajahku dari tempat sujud. Aku terus memohon agar Allah berkenan mengampuniku. Allah telah mengingatkanku dengan “tamparan”-Nya itu. Aku benar-benar menyesal. “Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini. Aku telah berbuat sesuatu yang tidak Engkau ridhai…” Perlahan aku bangkit. Di antara air mata yang terus menetes dari kedua mataku, aku mencoba meneruskan kembali perjuanganku mencium hajar aswad. Aku ikut mengantri, sambil terus mengucapkan kalimat istigfar dan tasbih. Dan, Subhanallah… arus manusia itu mendorongku mendekati hajar aswad. Kujelang hajar aswad dan kucium dalam-dalam, air mata ini terus menetes. “Engkau Maha Pengampun dan Pemurah… Engkau member kebahagiaan yang tak terkira kepada hamba yang sudah bertaubat. Maka, ya Allah, ampunilah hamba yang bergelimang dosa ini…”

Aku kembali menjalankan ritual ibadah haji. Kujalani dengan sepenuh hati. Hingga suatu ketika, tatkala fajar sidiq di ambang cakrawala, aku keluar dari penginapan menuju Masjidil Haram. Aku ingin mengerjakan shalat sunnah di tempat yang ganjaran pahalanya seribu kali lipat itu. Dan supaya bukan hanya aku yang mempunyai niat tersebut. Masjidil Haram sudah penuh dengan jutaan manusia. Mereka berasal dari seluruh pelosok bumi.

Di tanah haram itu, aku bisa melihat berbagai ras manusia, bahasa yang berbeda dan dengan postur tubuh yang rata-rata tinggi besar. Meski berbeda dalam berbagai hal, tetapi semuanya menyatu di Baitullah, sambil terus melafalkan Labbaikalllahumma labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, la syarikalak. Ketika lantunan kalimat tauhid itu berkumandang dari mulut para jama’ah calon haji, gemanya memantul dari setiap dinding Masjidil Haram. Gema kalimat itu membuatku serasa berada dalam satu gerak untuk sebuah tujuan yang sama. Memang, orang-orang yang berkumpul di Mekkah, semuanya bertujuan untuk menunaikan ibadah haji.

Menjelang waktu shalat Shubuh tiba, semua jama’ah calon haji merapat kea rah Masjidil Haram. Mereka bergegas ingin mendapat shaf terdepan, di dekat Ka’bah. Sayangnya, shaf di dekat Ka’bah sudah lebih dahulu dipenuhi oleh calon jama’ah yang lain. Usai shalat, jutaan jama’ah calon haji bergerak meninggalkan Masjidil Haram. Ada yang menuju penginapannya (maktab), ada pula yang masuk ke dalam Masjidil Haram untuk thawaf. Saat jutaan manusia ini bergerak dengan arah yang berbeda-beda, ketika itulah aku terdorong ke sana-sini oleh jama’ah bertubuh raksasa asal afrika, hingga aku lupa pintu keluar masjid yang menuju jalan kea rah penginapanku. Setelah lama berusaha, aku pun menemukan pintu keluar menuju jalan kea rah penginapanku. Tapi… Subhanallah tak disangka tak terduga, aku bertemu orang yang selama ni paling aku hindari. Ia tepat berada di pintu keluar itu….. Maka aku pun memutar balik, mencoba melewati pintu keluar yang lain. Tapi lagi-lagi, karena arus dan dorongan dari jutaan manusia yang tumplek blek di Masjidil Haram, aku kembali kehilangan arah.

Tak terasa hari telah beranjak siang. Aku memutuskan untuk shalat sunnah di masjid tersebut. Sesuai shalat, aku kembali mencoba mencari jalan pulang. Ketika sudah menemukannya, aku kembali terkejut, karena orang yang sama masih ada di tempat itu. Ia berada tepat di depan pintu keluar menuju penginapanku. Aku pun urung menggunakan jalan tersebut. Lebih baik memutar lagi. Namun, lagi-lagi aku tersesat. Aku mencoba mencari jalan, mengelilingi Masjidil Haram. Kaki ini pun terasa letih. Aku terduduk, di depanku berdiri kokoh Ka’bah, yang agung. “Bagaimana ini, ya Allah….?” Tak terasa adzan Dzuhur berkumandang. Aku pun menunaikan shalat Dzuhur di Masjidil Haram. “Alhamdulillah…” Aku kembali bergegas pulang ke penginapan, dan beristirahat sejenak. Setelah berkutat dengan arus bolak-balik dari jama’ah yang hendak keluar dan masuk masjid, akhirnya aku menemukan pintu menuju penginapanku.

Tapi, tak disangka…. Orang itu ada di jalan itu lagi. Maka aku putuskan untuk mencari jalan yang lain, walau jalan itu belum aku temukan. Kejadian itu berulang hingga empat kali. Dan aku pun tersesat di Masjidil Haram untuk yang kesekian kalinya. Tubuh ini sudah letih. Lapar dan dahaga pun  tiada terkira. Aku berada di Masjid suci itu sejak hari masih gelap, sampai hari pun menjadi gelap lagi. “Ya Allah, aku pasrah….” Namun akhirnya aku menemukan jalan pulang. Tapi, anehnya, orang itu masih saja aku lihat di sana. Siapakah dia ? Dia adalah istriku yang telah lama aku tinggalkan. Aku pergi meninggalkannya setelah aku menikahi perempuan lain. Sudah bertahun-tahun aku tidak menemuinya, tidak menafkahinya, dan tiba-tiba bertemu di tanah haram itu.

Aku tahu dari putriku bahwa ibunya, istriku itu, pergi menunaikan ibadah haji pada tahun itu juga. Tapi aku tidak menyangka akan bertemu, bahkan seakan Allah memaksaku untuk bertemu dengannya di Masjidil Haram. Astaghfirullah…. Dengan kejadian itu, aku mengerti bahwa Allah menginginkan aku untuk ishlah, memperbaiki hubunganku dengannya, meminta maaf dan keridhaannya. Dengan tenaga dan keberanian yang masih tersisa, aku pun mendekati dan menyapanya… “Assalamu’alaikum….” “Wa’alaikum salam….” Jawabnya. Tampak dari raut perempuan paruh baya itu keterkejutan yang bukan main ketika melihatku…. “Astaghfirullah…. Kamu….?!” Serunya. Tubuhnya tampak lemas setelah melihatku. Namun beberapa saat kemudian ia berhasil menguasai keadaan.

Tanpa menunggu banyak kata, aku pun meraih tangannya dan memohon maaf serta keridhaannya… “Hatiku memang sakit. Sakit sekali. Kamu pergi begitu saja, tanpan sepatah kata pun. Dan ternyata kamu sudah menikah lagi. Sungguh perih hatiku ini. Tapi sudahlah, itu sudah lama berlalu, aku sudah pasrah, sudah ikhlas. Aku sudah memaafkanmu. Aku sendiri sudah tenang dan bahagia dengan keberadaanku sekarang. Semoga engkau pun begitu dengan cara dan jalan pilihanmu itu…,” katanya. Tak terasa air mata ini kembali menitik. Aku teringat betapa kejamnya perlakuanku terhadap dirinya. Sejak saat itu, kendati ia bukan istriku lagi, hubunganku dengannya kembali baik, terutama bila kami berbicara mengenai masalah putri-putri kami, yang berjumlah tiga orang.

Di penginapan, aku pun merenung, berusaha introspeksi dengan semua kejadian yang aku lalui di Tanah Suci. Ibadah haji ibarat kawah candradimuka bagi kaum muslimin. Kami disini dituntut untuk pasrah, sabar, dan ikhlas dalam setiap menjalankan rukun haji serta cobaan yang kami hadapi. Kesempatan ini juga merupakan kesempatan untuk bertaubat, meminta ampun kepada Allah swt. Dengan kekuasaan-Nya, Allah memperlihatkan dan membalas kesalahan-kesalahan kita di Tanah Air. Semua itu karena Allah menginginkan kita sadar dan bertaubat. Insya Allah, Dia menerima taubat hamba-hamba-Nya yang pasrah, sabar, dan ikhlas, sehingga ketika pulang ke tanah air mereka seperti bayi yang baru lahir, dan mendapat ganjaran haji mabrur. Subhanallah…!!

Sumber : Al Kisah No. 23
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Nyata Pengalaman Ibadah Haji Pak Edi Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Nyata Pengalaman Ibadah Haji Pak Edi Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya