Kisah Kelahiran Nabi Musa Dan Kekejaman Firaun

Dunia Nabi ~ Negeri Mesir dipimpin oleh seorang raja yang kejam dan zalim. Raja ini dikenal sebagai Firaun. Pada saat Nabi Musa masih berada di dalam kandunagan ibundanya. Firaun bermimpi melihat api yang sangat besar yang datang dari Baitul Magdis. Api tersebut semakin lama semakin membesar dan akhirnya membakar rumah penduduk Mesir sampai habis. Pada awalnya Firaun tidak menghiraukan mimpinya tersebut. Ia beranggapan bahwa itu hanya bunga tidur saja. Namun mimpi itu selalu hadir dalam tidurnya sehingga berulang-ulang sampai beberapa malam. Akhirnya ia pun mulai cemas dan sering merenung untuk mencari jawaban dari mimpinya itu.


Firaun merasa ketakutan dengan mimpi tersebut karena setiap hari jiwanya selalu dibayangi oleh mimpi itu. Akhirnya, Firaun mengumpulkan ahli nujum  (peramal) dan bertanya kepada mereka  tentang  arti mimpinya tersebut. Setelah beberapa lama ahli nujum itu berpikir  keras. Akhirnya, dengan nada ketakutan, ahli nujum itu menjelaskan. Bahwa mimpi Firaun  itu mempunyai arti akan lahir seorang anak laki-laki dari kalangan Bani Israel. Anak laki-laki tersebut tidak akan mengakui  Firaun sebagai  tuhan dan raja. Anak laki-laki itu juga kelak akan menghancurkan negeri Mesir dengan kekuasaannya.

Berdasarkan penjelasan ahli nujum tersebut, akhirnya Firaun memerintahkan semua prajuritnya  untuk memberitahukan kepada rakyatnya, Bani Israel, agar tidak melahirkan bayi laki-laki. Apabila lahir seorang bayi laki-laki dari Bani Israel maka bayi laki-laki tersebut langsung dibunuh. Tentu saja peraturan ini membuat penduduk Mesir dari Bani Israel merasa tertekan. Betapa tidak, setiap hari siang dan malam selalu terdengar jeritan, tangisan dan ratapan seorang ibu yang baru melahirkan melihat bayi laki-laki pujaan hati, dan belahan jiwanya dibunuh oleh tentara Firaun, sungguh kejam perbuatan Firaun.

Akan tetapi, kekejaman Firaun tidak berakhir sampai disini. Firaun mengadu domba antara golongan  yang satu dengan golongan yang lainnya. Tentu saja hal ini dilakukan oleh Firaun untuk memecah belah  persatuan mereka sehingga  terjadilah perpecahan di antara mereka. Sungguh Firaun sangat takut terhadap runtuhnya kekuasaan yang dimilikinya sehingga ia membuat tipu daya yang begitu licik. Namun, tipu daya Allah swt lebih sempurna karena dia adalah sebaik-baik pembuat tipu daya.

Oleh karena itu, kekuasaan Firaun tidak akan selamanya berdiri tegak karena kelak akan dihancurkan oleh Nabi Musa as, putra keturunan dari Bani Israel. Sesungguhnya Allah swt, telah mengabadikan kekejaman Firaun di dalam Al-Quran Surat Al- Qashash ayat 4, yang artinya, “Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang dimuka bumi  dan menjadikan penduduknya  berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang yang berbuat kerusakan.”

Kelahiran Nabi Musa as

Pada suatu masa, Firaun memerintahkan agar bayi laki-laki yang baru lahir untuk dibunuh. Ketika itu, seorang ibu sedang mengandung, ia khawatir bayi yang dikandungnya adalah bayi laki-laki. Tidak lama kemudian, ibu itu melahirkan anak bayi laki-laki yaitu bernama Musa. Dialah yang kelak menjadi seorang Nabi, yaitu Nabi Musa. Ibu Nabi Musa sangat bingung dan ketakutan. Ibu Nabi Musa berusaha menutupi kelahiran Nabi Musa. Namun tetap saja, berita kelahiran Nabi Musa sampai ke telinga Firaun. Tentara-tentara firaun menggeledah rumah ibu Nabi Musa. Mereka tidak menemukan nabi Musa  karena telah disembunyikan di dapur.

Allah swt, memberikan ilham kepada ibu Nabi Musa. Nabi Musa ditempatkan dalam peti kecil. Kemudian, ibu Nabi Musa dibantu dengan saudara perempuan Nabi Musa menghanyutkannya di Sungai Nil. Sebelumnya, ibu Nabi Musa  telah menyusuinya hingga kenyang. Allah memerintahkan sungai Nil agar  arusnya tenang dan membawa Musa hingga sampai di istana Firaun.

Kisah Nabi Musa yang dihanyutkan ke sungai Nil terdapat dalam Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 7. “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya  kepada-Mu, dan menjadikannya (salah seorang)  dari para rasul.”

Nabi Musa Sampai Di Istana Firaun

Peti yang  berisi bayi Nabi Musa dihanyutkan melalui aliran Sungai Nil. Kemudian peti itu terhenti di suatu tepi sungai. Pada saat itu, istri Firaun yang bernama Asiyah, dan dayang-dayangnya keluar berjalan-jalan. Ketika hendak mengambil air, mereka melihat peti di tepi sungai. Mereka  mengambilnya peti itu dan membawanya ke istana Firaun.

Alangkah terkejutnya mereka ketika membuka peti itu, mereka melihat  bayi di dalam peti itu, Allah mengaruniakan perasaan cinta kasih pada hati Asiyah, sehingga timbul dalam hati Asiyah rasa sayang kepada bayi Musa. Dengan penuh rasa sayang, Asiyah membawanya ke istana.

Firaun terkejut melihat istrinya membawa bayi laki-laki. Kemudian, Firaun memerintahkan untuk membunuh bayi itu, Asiyah menghalanginya. Setelah dibujuk, Firaun setuju  untuk tidak jadi dibunuh bahkan memelihara bayi itu. Dalam Al-Quran dikisahkan Asiyah yang membujuk Firaun agar dirinya diperbolehkan mengasuh Musa. Ayat itu adalah Surat  Al-Qashash ayat 9. “Dan berkatalah istri Firaun, “(ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah  kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia dapat bermanfaat  untuk kita  atau kita ambil untuk menjadi anak, sedang mereka tiada menyadari.” Sejak saat itu, Nabi Musa tinggal di istana Firaun. Ia  tinggal di sana hingga ia menjadi dewasa.

Ketabahan Ibu Nabi Musa      

Setelah menghanyutkan bayinya, ibu Nabi Musa Yukabid, merasa menyesal. Ia sangat  khawatir dengan keselamatan bayinya. Bahkan Yukabid hampir saja berteriak meminta tolong kepada orang untuk mengambil anaknya dari aliran sungai. Namun, hal itu tidak terjadi kerana Allah yang meneguhkan hatinya.

Perasaan ibu Nabi Musa digambarkan dalam Al-Quran . “Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (QS. Al-Qashash {28} : 10 ).

Pada suatu hari, bayi Musa menangis kelaparan. Asiyah dan Firaun pun mencari seorang wanita yang mau menyusui bayi mereka. Namun, Musa tidak mau menyusui  pada wanita yang dibawa oleh Asiyah dan Firaun. Setelah itu, didatangkan wanita lain, tetapi Musa tetap tidak mau menyusu. Begitu seterusnya, Musa menangis dan tetap tidak mau menyusu.

Suatu hari, ibu Musa mendengar berita tentang Musa yang menangis dan tidak mau menyusu sama wanita lain. Kemudian, ibu Nabi Musa datang ke istana dan menawarkan diri untuk menyusuinya bayi itu.  Setelah menyusui, ibu Nabi Musa mengemablikannya kepada istri Firaun ( Asiyah).

Demikianlah, Allah mempertemukan nabi Musa kepada ibunya. Kisah diceritakan di dalam Al- Quran Surat Al- Qashash ayat 13. “maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka  cita dan  supaya mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”

Sumber : Kisah Nabi Dan Rasul oleh Sugiasih, S.Si.
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Kelahiran Nabi Musa Dan Kekejaman Firaun Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Kelahiran Nabi Musa Dan Kekejaman Firaun Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya