Kisah Saad Bin Abi Waqqash Sahabat Nabi

Dunia Nabi ~ Saad bin Abi Waqqash adalah salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin oleh Rasulullah masuk surga. Hal itu disebabkan oleh keteguhan imannya terhadap ajaran Islam. Saad adalah seorang anak yang sangat patuh kepada ibunya. Ibunya bernama Hamnah bin Abu Sufyan. Hamnah adalah keturunan bangsawan Quraisy yang taat pada ajaran nenek moyangnya, yaitu menyembah berhala.


Saad begitu menghormati dan menyayangi ibunya. Ia menyadari bahwa ibunyalah yang telah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang. Setiap pagi, Saad dan ibunya selalu makan pagi bersama. Pada awal keislamannya, keteguhan Saad dipuji oleh Allah. Ketika itu, ia memeluk agama Islam secara diam-diam, tanpa member tahu ibunya. Suatu ketika, Saad sedang melaksanakan ibadah dengan khusyuk. Ibunya yang masih teguh dengan agama nenek moyangnya melihat peristiwa itu.

Saat itulah, Hamnah mengetahui bahwa putra tercintanya telah mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Ia sangat marah dan merasa tidak rela karena Saad memeluk agama Islam. Hamnah meminta kepada Saad untuk secepatnya meninggalkan ajaran Islam. Namun Saad menolaknya, hal itu membuat Hamnah semakin marah dan mengancam Saad. Hamnah berkata, “Wahai anakku, aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati. Jika aku mati, engkau akan dicela sebagai pembunuh ibumu sendiri”. “Wahai ibu, aku tidak akan meninggalkan agamaku walau apa pun yang terjadi, “kata Saad dengan tegas. Setelah kejadian itu, Saad selalu makan sendirian.

Hamnah benar-benar melaksanakan ancamannya. Seharian, Hamnah tidak makan. Hari kedua pun demikian. Hati Saad menjadi sedih melihat ibunya sakit karena tidak makan dan minum. Ia berusaha membujuk ibunya untuk makan. Namun, itu tidak berhasil. Hamnah berharap dengan melihat penderitaannya, putranya menjadi sadar dan kembali ke agama nenek moyangnya. Pada malam berikutnya, Saad kembali membujuk ibunya untuk makan. Ia tidak kuat melihat ibunya yang sangat disayanginya menderita. Saad tidak dapat menyembunyikan kesedihan di hadapan ibunya.

Sekalipun demikian, Saad tidak dapat menukar keimanannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dengan apa pun. Keimanan kepada ajaran Islam telah mengakar kuat di dalam hatinya. Hamnah juga tetap pada pendiriannua untuk tidak makan dan minum bila Saad tidak mau meninggalkan ajaran Islam. Saad berkata dengan tegas, “Wahai ibuku. Demi Allah, seandainya ibu memiliki seratus nyawa dan nyawa-nyawa itu keluar satu persatu dari tubuh ibu, aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku. Kalau ibu merasa lapar, makanlah. Jika tidak mau, tidak usah ibu makan”. Mendengar perkataan Saad, Hamnah hanya tertegun sebentar. Saat itulah, Hamnah benar-benar menyadari bahwa anaknya tidak akan meninggalkan agamanya. Akhirnya, Hamnah memutuskan untuk makan dan membiarkan Saad dengan agamanya.

Pada pagi harinya, Saad pergi ke majelis Nabi Muhammad. Di sana, Saad menceritakan kejadian yang dialaminya. Saat itulah turun wahyu surat Luqman ayat 15, “Dan jika keduanya (bapak dan ibu) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Ayat itu mendukung tindakan Saad yang mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT.

Saad bin Abi Waqqash Penghuni Surga

Keimanan Saad bin Abi Waqqash tidak diragukan lagi. Ia senantiasa menjalankan perintah yang diperintahkan ajaran agama. Ia juga seorang yang takut kepada Allah. Hal ini terlihat saat mendengar dakwah Rasulullah, ia serinf kali menangis. Pantaslah, Saad termasuk calon penghuni surga. Pada suatu ketika, Rasulullah dan para sahabat sedang duduk bersama. Beberapa saat, pandangan Rasululah tertuju ke arah ufuk.

Kemudian, pandangan Rasulullah beralih kepada para sahabat dan berkata, “Aka nada seorang lelaki yang menjadi penghuni surga muncul di hadapan kalian”. Para sahabat menoleh ke kiri dan ke kanan mencari orang yang dimaksud oleh Rasulullah. Tidak lama kemudian, Saad muncul di hadapan para sahabat. Dialah yang akan menjadi penduduk surga kelak. Salah seorang sahabat meminta Saad menceritakan ibadah yang dilakukannya sehingga ia termasuk penghuni surga. Saad berkata, “Aku mengamalkan tidak lebih dari amal ibadah yang biasa kita kerjakan. Hanya saja, aku tidak pernah menaruh dendam atau berniat jahat kepada seorang pun di antara kaum muslim”.

Perjuangan Saad Bin Abi Waqqash

Saad bin Abi Waqqash adalah sahabat yang tidak hanya taat menjalankan ibadah, tetapi juga selalu menyertai perjuangan Rasulullah dalam setiap peperangan. Dengan keberanian yang laur biasa, ia memerangi musuh-musuh Allah. Dalam kaitannya dengan membela agama Allah, Saad memiliki dua keistimewaan. Pertama, Saad adalah orang yang pertama melesatkan anak panah dalam membela agama Allah. Saad adalah orang pertama juga yang terkena anak panah musuh dalam membela agama Allah. Kedua, Saad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan bapak dan ibu Rasulullah sendiri.

Ketika itu, Rasulullah bersabda, “Wahai Saad, panahlah. Ibu Bapakku menjadi jaminan bagimu”. Dalam pertempuran, Saad memiliki dua senjata, yaitu panah dan doa. Setiap kali ia memanah musuh, pasti anak panah akan mengenai sasaran yang dituju. Selain itu, Saad adalah orang-orang yang doa-doanya dikabulkan oleh Allah. Semua itu terjadi karena doa Rasulullah. Suatu ketika, Rasulullah melihat Saad sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Rasulullah. Kemudian, Rasulullah berdoa, “Ya Allah, tepatkanlah bidikannya dan kabulkanlah doanya”. Sejak kejadian itu, Saad dikenal sebagai orang yang doanya dikabulkan. Hal itu tidak menjadikan Saad berbangga diri secara berlebihan. Malahan, ia tidak ingin berdoa bagi kerugian orang lain, tetapi ia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Allah SWT.

Pada suatu ketika, penduduk Kufah mengadukan Gubernur Saad bin Abi Waqqash kepada Khalifah Umar bin Khattab. Menurut mereka, shalat Saad tidak baik. Setelah itu, Umar memberhentikan Saad sebagai Gubernur. Umar bertanya kepada Saad tentang anggapan shalat Saad yang tidak baik. Saad menerangkan bahwa shalatnya seperti shalat Rasulullah. Setelah itu, Umar mengutus beberapa orang untuk pergi ke Kufah bersama Saad. Ketika sampai di Kufah, mereka berkunjung ke masjid-masjid. Kepada setiap jamaah, mereka bertanya tentang Saad. Setiap kali ditanyakan, mereka memuji Saad.

Namun hal itu berbeda, ketika mereka bertanta kepada jamaah masjid milik Bani ‘Abs. seorang lelaki bernama Usamah bin Qatadah berkata, “Menurutku Saad bin Abi Waqqash adalah orang yang tidak pernah memimpin perang, tidak adil dalam membagi harta rampasan perang”. Usamah juga mengatakan bahwa Saad tidak adil dalam memutuskan suatu perkara. Mendengar perkataan Usamah, Saad berdoa, “Ya Allah, jika ia berdusta, berkata karena riya dan mencari nama, panjangkanlah umurnya,langgengkanlah kekafirannya, dan jadikanlah ia sasaran fitnah dan cobaan”. Sekian lama, orang ini masih hidup. Namun, bulu matanya rontok hingga tiada tersisa karena usia yang sudah uzur. Ia sering kali mendapat cobaan.
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Saad Bin Abi Waqqash Sahabat Nabi Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Saad Bin Abi Waqqash Sahabat Nabi Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya