Kisah Nabi Nuh Dan Kaumnya

Kisah Nabi Nuh Dan Kaumnya ~ Nabi Nuh adalah keturunan kesembilan dari Nabi Adam as. Ayahnya bernama Lamik bin Metusyalih bin Idris as. Dengan demikian, ia adalah nabi keempat sesudah Nabi Adam, Nabi Syits, Nabi Idris. Nabi Nuh adalah seorang yang saleh, sabar, dan bijaksana. Ia juga termasuk orang yang banyak bersyukur.


Allah memuji sifat Nabi Nuh yang banyak tafakur dan bersyukur. Kaum Nabi Nuh adalah kaum yang pertama kali menyembah berhala. Mereka menyembah patung-patung yang dibuat oleh mereka sendiri. Kaum Nabi Nuh dikenal sebagai Bani Rasib. Mereka tinggal di wilayah Babel Irak. Dahulunya mereka menyembah Allah Ta’ala. Mereka beribadah dan taat kepada Allah. Di antara mereka terdapat orang-orang yang saleh, rajin beribadah, berlaku adil, dan bijaksana. Orang-orang Bani Rasib sangat menghormati dan memuliakan mereka. Di antara mereka terdapat lima orang yang sangat terkenal, yaitu Wudd, Suwaa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.

Suatu ketika, lima orang tersebut meninggal dunia. Orang-orang Bani Rasib sangat bersedih. Dalam kesedihan yang mendalam, iblis berhasil memunculkan ide dalam pikiran mereka untuk membuat patung-patung kelima orang tersebut. Hal itu merupakan wujud kecintaan mereka kepada kelima orang yang meninggal itu.

Melalui patung-patung itu, mereka mengingat orang-orang yang sangat dikasihinya. Kemudian, patung-patung itu dimasukkan ke dalam rumah-rumah mereka. Lama-kelamaan, mereka juga menyucikan dan memuliakan patung-patung itu. Setelah beberapa generasi, kegiatan itu menjadi kegiatan ibadah. Akhirnya, mereka melupakan Allah SWT. Sejak saat itu, mereka menjadi kaum yang kufur dan syirik. Inilah kaum yang pertama kali menyembah berhala. Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka adalah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan adalah golongan yang merugi (Al-Quran Surat Al-Mujaadilah ayat 19).

Nabi Nuh as Dituduh Sebagai Orang Pendusta

Kaum Nabi Nuh telah melakukan syirik dengan menyembah berhala. Oleh karena itu, Allah mengutus Nabi Nuh untuk member peringatan kepada mereka. Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya untuk meninggalkan perbuatan syirik itu dan hanya menyembah kepada Allah SWT. Nabi Nuh memberi peringatan adanya siksaan bagi orang yang kafir, “Wahai kaumku, janganlah kamu menyembah selain Allah. Aku khawatir kamu akan ditimpa azab di akhirat nanti”, kata Nabi Nuh.

Mereka menghina kata-kata Nabi Nuh. “Apakah kelebihanmu sehingga kamu berdakwah kepada kami ? Kami lihat kamu seperti manusia biasa. Hanya orang-orang bodoh yang percaya pada kata-kata kamu. Bagi kami, kamu adalah seorang pendusta yang ingin menyesatkan kami,” kata orang-orang kafir itu. Nabi Nuh dengan sabar menjawab, “Wahai kaumku, aku ini bukanlah orang yang sesat seperti yang kamu tuduhkan. Aku adalah seorang utusan Allah yang ditugaskan untuk berdakwah. Hal ini untuk kebaikanmu supaya kamu tidak mendapat siksaan nanti”.

Nabi Nuh terus berdakwah tanpa mengenal lelah. Ia mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Menciptakan Alam Semesta. Akan tetapi, setelah sekian lama berdakwah, hanya sedikit yang mau menjadi pengikutnya. Mereka tetap saja ingkar dan menyembah berhala. Menghadapi kaumnya yang ingkat itu, Nabi Nuh berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kepada kaumku selama siang dan malam. Akan tetapi, seruanku itu hanya menambah mereka lari dari kebenaran”. Setiap kali Nabi Nuh berdakwah kepada mereka agar Allah mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinga dan menutup wajah dengan bajunya. Kaum Nabi Nuh tetap menolak ajakan Nabi Nuh. Mereka tetap menyembah berhala yang tidak memberikan manfaat apapun.

Nabi Nuh tetap sabar dan tidak pernah mengabaikan tugasnya sebagai Rasul. Beratus-ratus tahun lamanya, ia menyeru kaumnya untuk meninggalkan penyembahan berhala. Namun, mereka tidak mengindahkannya. Hanya sedikit yang menjadi pengikut Nabi Nuh. Nabi Nuh sangat kecewa. Pada umumnya, pengikut Nabi Nuh adalah orang-orang biasa atau kaum miskin. Kemudian, Nabi Nuh berdoa agar Allah menurunkan azab kepada kaum yang kafir. Ia berucap, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku ! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan” (QS. Nuh : 26-27). Nabi Nuh sangat kecewa dan sedih karena dakwahnya tidak menyadarkan kaumnya. Pada akhirnya nanti, Allah benar-benar mengabulkan doa Nabi Nuh.

Usia Nabi Nuh as

Nabi Nuh telah berdakwah sangat lama. Sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa Nabi Nuh ialah Nabi yang paling lama berdakwah dibandingkan Nabi-Nabi yang lain. Ayat 14 surat Al-Ankabut menyatakan bahwa Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun. Namun usia Nabi Nuh hingga ia meninggal tidak diketahui secara pasti. Selama beratus-ratus tahun, Nabi Nuh tiada putus-putusnya berdakwah kepada kaumnya. Selama itu pula, ia banyak memperoleh tantangan, cemooh, hinaan, cacian, dan ejekan. Bahkan kaumnya menuduhnya sebagai orang gila dan seorang pendusta. Nabi Nuh telah lama berdakwah, tetapi pengikutnya hanya sedikit. “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu, kecuali sedikit” (QS. Surat Hud : 40). Namun Nabi Nuh tetap bersabar dan tidak berputus asa. Kesabaran Nabi Nuh ini dapat kita teladani. Nabi Nuh selalu bersabar dari perbuatan buruk kaumnya terhadap dirinya. [Dunia Nabi]
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Nabi Nuh Dan Kaumnya Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Nabi Nuh Dan Kaumnya Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya