Kisah Asma Binti Abu Bakar

Dunia Nabi ~ Asma binti Abu Bakar adalah putrid Abu Bakar dan Qatilah binti Abdul Uzza. Asma memiliki dua orang adik, yaitu Abdurrahman dan Aisyah. Abu Bakar dan Qatilah  bercerai pada zaman jahiliah. Pada suatu hari, Qatilah datang menemui Asma dengan membawa oleh-oleh.


Namun, Asma tidak mengizinkan Qatilah masuk ke dalam rumah karena Qatilah masih menyembah berhala. Kemudian Asma meminta bantuan seseorang untuk menemui Rasulullah. Orang tersebut diminta untuk bertanya kepada Rasulullah tentang boleh tidaknya Asma menerima kunjungan ibunya yang musyrik. Setelah beberapa waktu, Asma memperoleh jawaban dari Rasulullah. Rasulullah mengatakan bahwa Asma harus memperlakukan ibunya dengan baik, sekalipun ibunya seorang yang kafir.

Selain taat pada Allah dan Rasul-Nya, Asma juga seorang yang bekerja keras. Suatu ketika, Asma menikah dengan Zubair bin Awwam. Setelah menikah, Zubair bin Awwam sibuk berjuang bersama Rasulullah. Oleh karena itu, Asma sering kali ditinggal pergi Zubair. Asma pun mengurus segala keperluan keluarganya sendirian. Sekalipun bukan termasuk orang yang banyak memiliki harta, Asma dikenal sebagai orang yang dermawan. Ia sering kali menyedekahkan harta yang dimilikinya. Suatu saat, ia pernah menasihati keluarganya untuk selalu bersedekah. Asma berkata, “Janganlah menunggu kelebihan harta untuk bersedekah. Apabila engkau menunggu sisa dari hartamu untuk sedekah, sementara kebutuhan bertambah banyak , hartamu akan habis untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri. Apabila hartamu disedekahkan di jalan Allah, insyah Allah kamu tidak akan mengalami kerugian”. Demikianlah, Asma putrid Abu Bakar adalah seorang yang taat kepada Allah, sabar menjalani kehidupannya, dan banyak melakukan sedekah.

Asma dan Abu Quhafah

Pada suatu masa, Abu Bakar berhijrah bersama Rasulullah. Saat itu, Abu Bakar membawa semua uangnya yang berjumlah sekitar lima atau enam ribu dollar. Ia sama sekali tidak menyisakan sedikit pun untuk anaknya, Asma. Abu Quhafah adalah ayah Abu Bakar yang telah buta. Suatu hari, Abu Quhafah menemui Asma. Ia menyatakan kesedihan dan penyesalan karena Abu Bakar tidak menyisakan harta untuk Asma dan Aisyah. Abu Quhafah juga menyatakan bahwa Abu Bakar telah membebani keduanya. Asma menjawab bahwa ayahnya sama sekali tidak membebani mereka. Asma menambahkan, “Tidak sama sekali. Ayah telah meninggalkan harta yang sangat banyak”. Setelah itu, Asma mengumpulkan batu-batu dan membuat lubang di dalam rumah. Kemudian ia menempatkan batu-batu itu ke dalam lubang tersebut. Setelah batu-batu itu ditutup dengan kain, Asma memegang tangan Abu Quhafah dan menempelkan tangannya di atas kain itu. Asma berkata, “Inilah harta yang ditinggalkan oleh ayah untuk kami”.

Abu Quhafah pun menjadi lega. Ia beranggapan bahwa Abu Bakar telah meninggalkan harta yang cukup untuk cucu-cucunya. Sebenarnya, Abu Bakar sama sekali tidak meninggalkan harta benda sedikit pun. Hal itu dilakukan Asma agar kakeknya tidak bersedih hati.

Asma Menjaga Kehormatan Dirinya

Ketika telah hijrah di Madinah, Rasulullah memberikan sebidang tanah kepada Asma binti Abu Bakar dan suaminya, Zubair. Di tanah itu, Asma dan Zubair menanam pohon-pohon kurma. Pada suatu hari, Asma kembali dari kebun dengan membawa kurma yang ditaruh di atas kepalanya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Rasulullah dan beberapa sahabat Anshar . ketika melihat Asma, Rasulullah menghentikan untanya. Ia pun meminta Asma untuk naik ke atas untanya. Namun, Asma merasa malu dan risau. Ia khawatir suaminya, Zubair, akan cemburu dan memarahinya. Asma pun menolak tawaran Rasulullah. Rasulullah sepertinya memahami perasaan Asma. Ia pun meninggalkan Asma.

Asma pulang ke rumah dan sesampainya di rumah, ia menceritakan semua kejadian itu kepada suaminya. Zubair berkata, “Demi Allah, aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa kurma-kurma di atas kepalamu, sementara aku tidak dapat membantumu”. Kejadian itu juga diketahui oleh ayah Asma, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Bakar memberikan seorang hamba sahaya untuk Asma. Dengan demikian, pekerjaan-pekerjaan Asma dapat lebih ringan. Wanita yang shalehah adalah wanita yang taat pada perintah Allah dan memelihara diri ketika suami tidak ada. Di antara memelihara diri adalah menjaga kehormatan diri, menjaga rahasia suami serta hartanya.
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Asma Binti Abu Bakar Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Asma Binti Abu Bakar Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya