Kisah Cobaan dan Ujian Nabi Ayub as

Kisah Cobaan dan Ujian Nabi Ayub as ~ Salah satu orang yang dipercaya membawa syariat Tuhan adalah Nabi Ayub as. Orangnya terkenal sabar dan penyayang. Oleh karena itu, Tuhan membanggakan Nabi Ayub kepada segenap makhluk-Nya mulai dari pepohonan, hewan, malaikat bahkan para setan.

Menanggapi "pembanggaan" Tuhan atas Nabi Ayub, setan yang berjiwa pembangkang tentu membantah, menantang Tuhan dengan mengatakan, "Tuhan, Engkau tak perlu membanggakan Ayub-Mu. Dia sabar hati dan baik budi karena hidup serba kecukupan. Saya sangsi apakah Ayub tetap memperlihatkan sikap terpuji jika Engkau menimpakan ujian kemelaratan dan kenistaan."


Mendapat kesangsian setan, Tuhan lantas membuktikan keutamaan makhluk-Nya yang bernama Ayub ini. Nabi Ayub yang semula kaya raya, akhirnya dibangkrutkan Tuhan. Ayub yang asalnya banyak putra, akhirnya satu persatu dicabut nyawanya hingga tak ada sisa. Nabi Ayub yang tadinya gagah, sehat wal afiat, akhirnya ditimpa penyakit yang tak ada obatnya. Badannya membusuk, bahkan belatung telah menempel masuk. Baunya menjadi sangat busuk.

Istri-istrinya, satu persatu meninggalkannya, kecuali hanya satu yang setia, yang justru paling cantik di antara semua. Lebih menyakitkan lagi, akibat bau busuk yang amat menyengat, Nabi Ayub malah diasingkan masyarakat yang tadinya memuja dan menghormatinya. Ia hidup terpencil dalam sebuah gua.

Ada tiga peristiwa penting terkait dengan musibah Nabi Ayub ini.
  1. Bagi orang kebanyakan, musibah beruntun seperti ini akan sangat mungkin membuatnya gila atau bunuh diri akibat putus asa. Tapi, bagi orang sekualitas Nabi Ayub dalam soal keimanan, dia menerima segala cobaan dengan tawakal dan bijaksana. Tak mungkin bagi dirinya untuk berobat, karena tak satu pun orang yang mau mendekat. Sebab, hanya tinggal satu orang yang mau merawat, yakni satu-satunya istri yang masih setia.
  2. Dalam keterpurukan dan ketersiksaan, Nabi Ayub tetap ingat dan taat kepada Tuhan. Ia selalu rajin bermunajat, bukan berdoa untuk kesembuhan, tapi berdoa agar diberi ketabahan menerima segala ujian.
  3. Setiap kali akan shalat, ia mencabut (memunguti) puluhan belatung yang menempel di lukanya, tapi sama sekali tak mematikannya. Adalah pantangan baginya, membunuh sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan tanpas sesuatu alasan. Bahkan, setelah selsai shalat, belatung dikembalikan pada tempatnya, pada lukanya, agar mereka dapat tetap hidup memperoleh makanan dari tubuhnya. Bagi Nabi Ayub, belatung mempunyai hak hidup sebagaimana dirinya, belatung mempunyai hak mendapatkan pangan (makanan) sebagaimana dirinya pula. Masya Allah.
Suatu hari Nabi Ayub dan istrinya tak memiliki sesuatu apapun untuk mengganjal perutnya. Nabi Ayub kelaparan, istri setianya juga keroncongan. Nabi Ayub tawakal, si istri juga sabar. Namun, lama-lama istri shalehah ini tak tega melihat kondisi suaminya yang kian payah, sudah sakit masih ditambah lapar pula. Sama sekali wanita itu tak memikirkan dirinya, melainkan meresahkan kondisi suaminya. Akhirnya, istri setia itu pergi ke pasar, bukan menjual sesuatu apapun, karena memang tak punya apa-apa yang dapat dijual. Dia hanya menjual rambutnya yang panjang hanya untuk membeli makanan bagi suami tercinta. Kala itu masyarakat memang sudah terbiasa memakai rambut palsu, rambut penyambung untuk gelungan alias kondean, yang dalam terminologi Jawa disebut cemoro, dan dalam bahasa Indonesia dinamakan wig. Ketika si istri pulang dengan membawa makanan, Nabi Ayub bukannya gembira tentang apa yang dilakukan istrinya. Ia marah karena telah menyalahi hukum Tuhan, menjual rambutnya hanya demi makanan. Atas peristiwa ini Nabi Ayub bersumpah, bila Tuhan memberi kesembuhan dia akan menghukum istrinya, mencambuk seratus kali.

Akhirnya Ayub memanjatkan doa agar diberi kesembuhan. Dia berdoa bukan karena tak tahan pada cobaan, melainkan ingin melaksanakan sumpahnya menghukum istri yang melanggar aturan Tuhan.

Singkat kata, Tuhan pun akhirnya memberi kesembuhan, dan nabi Ayub telah lulus ujian. Alhasil, Nabi Ayub akhirnya ingin melaksanakan sumpah, karena janji dan sumpah memang tak mungkin diingkari. Tapi, mengingat kesetiaan dan kesalehan si wanita, Tuhan yang Maha Penyayang langsung mengajari, bahwa Nabi Ayub tetap dapat melaksanakan sumpah memukul istri 100 kali, tapi hendaknya tak menyakiti. Caranya, 100 lidi diikat jadi satu menjadi sapu, lantas dipukulkan sekali dengan keras, yang berarti telah sekaligus memukul 100 kali.

Referensi Saya : Berbagai Sumber
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Kisah Cobaan dan Ujian Nabi Ayub as Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Kisah Cobaan dan Ujian Nabi Ayub as Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya