Penggalan Kisah Abu Bakar Yang Menginspirasi

Penggalan Kisah Abu Bakar Yang Menginspirasi ~ Ada satu kisah menarik dibalik ke Islaman Abu Bakar. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud, sebagaimana di kisahkan oleh Abu Bakar. Suatu ketika, Abu Bakar pergi ke negeri Yaman dan menemui seorang tua yang rajin membaca kitab. Setelah bertanya tentang daerah dan suku Abu Bakar pun membenarkan apa yang dikatakan orang tua itu.  Akhirnya  orang tua itu berkata satu hal yang sangat pribadi.


“Ada satu hal yang hendak kutanyakan tentang diri Tuan. Apakah tak keberatan jika aku ingin melihat perut Tuan?”

Abu Bakar awalnya keberatan, tapi kemudian meminta orang tua itu untuk mengatakan yang sebenarnya di balik itu. Akhirnya, orang tua itu bercerita bahwa akan ada Nabi Allah yang diutus di Tanah Haram dan Nabi itu kelak dibantu oleh dua orang sahabatnya, Satu masih muda dan satunya separuh umur. “Apa salah satunya itu adalah Tuan? Jadi aku ingin melihat tanda di perut Tuan itu.”

Baca juga :
Abu Bakar  kemudian melepas pakaiannya, dan orang tua itu pun melihat tahi lalat hitam di atas perut Abu Bakar. “Demi Tuhan yang menguasai Ka'bah Tuanlah orangnya itu!” Sebelum meninggalkan Yaman, Abu Bakar menemui orang tua itu untuk berpamitan dan orang tua itu memberi kenang-kenangan syair. Tapi, setiba di Mekkah, beberapa pemuda menemui Abu Bakar, dan berkata, “Adakah engkau tahu yang sudah terjadi?”

“Apakah yang terjadi itu?” Para pemuda itu bercertita bahwa Muhammad saw telah mengaku menjadi Nabi, dan mereka berharap kepada Abu Bakar untuk menyelesaikan masalah itu. Setelah mereka pulang. Abu Bakar menemui Nabi, dan berkata, “Wahai Muhammad engkau telah mencemarkan kedudukkan keluargamu dan aku diberitahu engkau benar-benar telah menyeleweng dari kepercayaan nenek moyang kita.”

Nabi menjawab pendek, “Aku adalah Pesuruh Allah, yang diutus untukmu dan untuk seluruh  umat!”

“Apa bukti dari semua itu?”

“Orang tua yang engkau temui di Yaman tempo hari”.

Abu Bakar merasa penasaran sehingga kembali bertanya, “Orang tua yang mana? Sebab, aku menemui banyak orang tua di Yaman itu.”

“Orang tua yang mengirimkan untaian syair kepadamu.”

Abu Bakar terperanjak kaget, karena merasa tak ada seorang pun yang mengetahui soal itu. “Siapakah yang memberitahumu, wahai sahabatku?”

“Malaikat yang pernah menemui nabi-nabi sebelumku.”

Akhirnya,  Abu  Bakar  meminta Nabi mengulurkan tangan dan Abu Bakar pun masuk Islam.

Setelah Rasulullah melakukan perjalanan Isra-Mi'raj, dan tak selang lama berita itu tersebar luas, orang-orang kafir Quraisy dan musyrikin menganggap Nabi telah berbohong. Orang-orang itu telah mendustakan perkataan Rasulullah. Tetapi tidak demikian dengan Abu Bakar. Pagi itu, sekelompok orang dari kaum kafir Quraisy dan musyrikin mendatangi Abu Bakar. Setelah bertemu dengan Abu Bakar, mereka berkata dengan nada sinis. “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (yakni Muhammad Saw)!”

Abu Bakar berkata: “Apa yang beliau ucapkan?”

Orang-orang musyrik berkata, “Dia menyangka bahwasanya dia telah pergi ke Baitul  Maqdis  dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam.” Abu Bakar pun menjawab pendek, “Jika memang beliau yang mengucapkan, sunguh berita tersebut  benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur.”

Orang-orang musyrik kembali bertanya, “Mengapa demikian?” Abu Bakar menjawab, “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau    tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” (HR. Imam Hakim).

Abu Bakar adalah salah seorang sahabat Nabi yang setia, bahkan setia menemani Nabi dalam suka dan duka hingga Rasulullah wafat. Abu Bakar yang menemani Nabi hijrah ke kota Madinah dan ia yang menemani Rasul singgah di dalam gua untuk berteduh dan berlindung dari kejaran kaum kafir Quraisy dalam perjalanan hijrah tersebut hingga rela digigit ular.

Hari itu, suasana gua Tsur dilingkupi sunyi. Gua yang dijadikan tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar sewaktu melakukan perjalanan hijrah ke Madinah itu bahkan diterpa dingin dan setengah gelap. Dalam  keremangan gua itu Abu Bakar menyadarkan  punggung dan  berjaga-jaga. Sementara itu, Rasulullah sedang beristirahat nyaman di pangkuan lebih tepatnya di paha Abu Bakar.

Tapi di luar dugaan Abu Bakar yang sedang berjaga-jaga, tiba-tiba muncul seekor ular. Ular itu bahkan perlahan-lahan mendekati kaki Abu Bakar. Dalam sekejap, Abu Bakar pun siaga dan waspada. Ia bersiap-siap menarik kakinya untuk menjauh agar tidak digigit ular berbisa itu. Tapi ketika ia melihat sejenak wajah Rasulullah yang teduh saat tidur dengan nyaman, keinginan itu pun diurungkan. Ia tidak tega jika gerakan kakinya itu sampai-sampai membangunkan Rasulullah.

Ketika ular itu akhirnya menggigit pergelangan kaki Abu Bakar, ia tetap tenang. Ia hanya meringis, menahan pedih dan perih. Setelah ular itu beranjak pergi, tubuh Abu Bakar seketika diserang panas. Bisa akibat gigitan ular itu pun merambat dengan cepat ke sekujur tubuh Abu Bakar. Rasa sakit tidak kuasa ia tahan. Akhirnya, ia pun menangis dan Rasulullah terbangun.

“Apakah yang membuatmu menangis ? Apakah engkau menyesal karena mengikuti perjalanan ini?” tanya Rasulullah memecah keheningan gua.

“Tidak Rasulullah. Saya bahkan ridha dan ikhlas mengikuti kepergian Rasulullah ke mana pun.”

“Lalu kenapa engkau menangis?”

“Seekor ular telah menggigit kaki saya, wahai putra Abdullah, dan bisa ular itu menjalar dengan cepat.”

Dengan penuh heran. Rasulullah menatap wajah Abu Bakar. “Mengapa engkau tidak mengindar?”

“Saya khawatir membangunkan Rasulullah yang sedang lelap dalam tidur” jawab Abu Bakar. Tapi, sekejap kemudian, rasa sesal pun menerpa Abu Bakar merasa bersalah lantaran ia tak bisa menahan air matanya menitik dan membuat Rasulullah terbangun.

Secuil kisah di atas adalah fragmen cukup indah dari sebongkah rasa cinta yang dilimpahkan Abu Bakar kepada Rasulullah. Itulah wujud cinta Abu Bakar....wujud cinta yang tulus dan murni kepada Rasulullah. Ia rela mendapat bahaya bahkan mati digigit ular berbisa demi menjaga kedamaian Rasulullah.

Dulu, Bilal bin Rabah adalah budak milik Umaiyah bin Khalaf. Ia memeluk Islam diam-diam, dan  saat Umaiyah tahu, dia pun murka. Lebih dari itu, dia merasa malu. Sebab, waktu itu orang-orang Quraisy sedang gencar menyiksa para pengikut Nabi Muhammad.

Dengan berang, dia pun meyiksa Bilal. Bilal diseret ke padang pasir. Di sana ia disiksa dengan kejam. Bilal ditawari untuk kembali ke ajaran nenek moyang mereka agar tak disiksa lagi. Tetapi Bilal menolak. Siksaan pun ditingkatkan Bilal dibaringkan di padang pasir tanpa pakaian. Kemudian Umaiyah memerintahkan orang-orang mengangkat batu besar diletakkan di atas tubuh Bilal. Bila tidak berdaya, Bilal ditawari untuk kembali ke ajaran nenek moyang mereka, tapi Bilal tetap bersikukuh. Bahkan, Bilal terus menyebut “Ahad.....Ahad.....Ahad” (Allah Yang Maha Esa).

Keteguhan Bilal itu membuat Umaiyah marah, dan semakin kejam menyiksa Bilal. Saat itulah, Abu Bakar melihat dan kemudian menghampirinya.

“Apakah engkau mau membunuhnya hanya karena ia mengatakan bahwa Tuhannya adalah Allah?”

Umaiyah tak bisa menjawab, apalagi setelah Abu Bakar kemudian menyerahkan uang dan berniat membeli Bilal. Umaiyah tak bisa berkutik, merasa senang karena budaknya dibeli dengan harga tinggi. Setelah itu, Abu Bakar memerdekakan Bilal.

Sumber : Majalah Hidayah
Kamu sedang membaca artikel tentang Penggalan Kisah Abu Bakar Yang Menginspirasi Silahkan baca artikel Dunia Nabi Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Penggalan Kisah Abu Bakar Yang Menginspirasi Sebagai sumbernya

Kisah Nabi Lainnya